Tampilkan postingan dengan label Belalek. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Belalek. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 15 September 2018

Belalek: Satu Warisan Tradisi Masyarakat Sambas

Belalek: Satu Warisan Tradisi Masyarakat Sambas


Sambas terkenal dengan rumah bagi Masyarakat Melayu Sambas, di mana masyarakat Melayu pula akrab dengan nuansa nilai-nilai Islam. Identitas Melayu yang dipandang sebagai Islam telah mentradisi dari zaman ke zaman sebelum munculnya generasi milineal, yaitu suatu generasi yang hidup pada zaman NOW, Zaman yang terkenal dengan serba ada, serba praktis serta banyak pula alat-alat canggih yang realistis. Termasuklah ketikan keyboard di jemari penulis ini. Jika anda sedang berkunjung ke Sambas anda harus mencoba Tahu Semparuk Khas Sambas yang tentunya mempunyai kekhasannya tersendiri dibanding dengan tahu lainnya.

Salah satu warisan tradisi masyarakat Melayu Sambas yang sampai kini masih dipraktekkan adalah tradisi Belalek. Dalam tradisi Belalek pastinya ada dua kata yang sangat asing di telinga masyarakat awam yaitu lokout. Lokout adalah singkatan dari lokal dan out yang merupakan penggabungan antara bahasa Indonesia dan bahasa English, yang mempunyai arti keluar lokal. Maksudnya adalah masyarakat di luar lokal. Yang perlu diketahui, bahwa tradisi ini merupakan ciptaan manusia yang telah berlangsung turun-temurun. Belalek sendiri merupakan kata lokal dari Bahasa Sambas yang memiliki makna gantian atau gotong-royong dan pada zaman sekarang tradisi belalek telah memiliki makna yang lebih luas.

Dahulunya, tradisi belalek hanya dikenal oleh masyarakat Sambas sebagai kegiatan tolong-menolong untuk menyelesaikan pekerjaan di sawah. Namun tradisi belalek sekarang telah menyebar di berbagai kegiatan. Tidak hanya terkhusus untuk kegiatan yang dilakukan di sawah saja namun juga untuk beberapa kegiatan lainnya. Pemakian istilah tradisi belalek sekarang ini juga meliputi acara perkawinan dan  kegiatan sosial lainnya.

Seperti yang dijelaskan sebelumnya, bahwa pelaksanaan tradisi belalek di sawah sendiri merupakan suatu pekerjaan yang berhubungan dengan kegiatan yang berada di sawah.  Di mana jika seseorang memerlukan tenaga jasa dari warga setempat maka sebagai imbalan, orang tersebut juga harus membantu si penolong di sawahnya jika ia meminta. Misalnya si A meminta si B untuk menolongnya mencangkul di sawah. Pekerjaan itu dilakukan tanpa gaji, karena nantinya si A  harus melalukan hal yang sama di sawah si B yaitu gantian mencangkul. Contoh lainnya, misal jika seseorang ingin nandur atau menanam, maka ia mengajak orang-orang yang berada di sekitar rumahnya untuk menolongnya. Nandur pula memiliki arti menanam padi.

Dengan balasan jika orang yang ikut menolong melakukan nandur maka orang yang minta tolong harus membalas di kemudian hari. Tradisi belalek sama sekali tidak membebani, malah membuat suatu pekerjaan cepat selesai dan mengurangi beban. Masyarakat Sambas sangat akrab dengan yang namanya tradisi belalek, sakin akrabnya hingga menjadi kearifan lokal, dan tradisi belalek sangat relevan untuk dilestarikan, dijaga dan dikenal pada kaca mata dunia.

Mengapa demikian? Karna dengan adanya tradisi belalek memicu nilai-nilai yang begitu banyak seperti nilai tolong-menolong dan kebersamaan. Bukan hanya itu tradisi belalek merupakan perekat bangsa. Berlangsungnya tradisi belalek memicu adanya interaksi dan saling ketergantungan. Tradisi belalek juga bisa dijadikan sebagai media pembelajaran lokal yang sangat signifikan dan relevan diterapkan di bangku pendidikan. Otodidak, mungkin itu bahasa yang tepat digunakan untuk media pembelajaran bagi generasi milineal.

Tradisi belalek tidak hanya dijadikan sebagai media pendidikan. Namun bisa menjadi contoh terutama bagi negara yang sering mengalami konflik. Belajar dari tradisi belalek yang dapat menjadi alat perekat bangsa.  Kita mengenal masyarakat sekarang sangat familir bahkan famous dengan yang namanya konflik, pertengkaran dan lainnya. Untuk itu masyarakat perlu menilik, memotret atau mencontoh kebiasaan-kebiasaan yang dilakukan oleh masyarakat para pendahulunya seperti di Sambas misalnya secara bersama, terkhusus pada tradisi belalek.

Menilik pada zaman Rasulullah, pelajaran pertama yang diajarkan dan perlu diterapkan adalah Akhlak Mahmudah yaitu Akhlak Terpuji. Tradisi belalek atau gotong-royong ini bisa diterapkan di lingkungan manapun. Baik di lingkungan keluarga, kerja, sekolah maupun lainnya. Mari budayakan kebiasaan yang baik untuk mewujudkan generasi yang baik.

Penulis: Syarifah Sajila Apjan