Tampilkan postingan dengan label Kapuas Hulu. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kapuas Hulu. Tampilkan semua postingan

Minggu, 15 November 2020

Syair Siti Jubaidah Desa Suhaid Kabupaten Kapuas Hulu, Kalimantan Barat.

Syair Siti Jubaidah Desa Suhaid Kabupaten Kapuas Hulu, Kalimantan Barat.

 


Syair Siti Jubaidah Desa Suhaid Kabupaten Kapuas Hulu-Beranjak dari suatu pengalaman penulis berinteraksi dengan salah satu orang tertua di desa Nanga Suhaid dusun Madang Permai. Kakek tersebut bernama H. Bilal Mad yang merupakan salah satu tokoh agama desa Suhaid. Cerita ini diambil ketika Kakek H. Bilal Mad menjadi salah satu narasumber kami untuk penelitian ditahun 2018. Kami mengambil data untuk penelitian kemudian dia bercerita kepada penulis tentang sejarah Syair Siti Jubaidah. pada tahun 2019 Kakek H. Bilal Mad telah meninggal dunia dan cerita Syair Jubaidah menjadi ingatan si penulis ingin menyambung cerita ini.

Syair Siti Jubaidah Desa Suhaid Kabupaten Kapuas Hulu-Siti Jubaidah adalah wanita dari Iran, pulau Perenggi. Berawal dari Sultan Abidin yang memutuskan untuk merantau dan tidak mau menikah, Sultan Abidin berlayar dan belabuh di negeri Suhaid. Ketika itu Sultan Abidin mengembara dan melewati perumahan warga desa. Saat diperjalanan Sultan Abidin melihat Siti Jubaidah yang sedang mengajar ngaji, Sultan Abidin penasaran dengan suara yang merdu yang dilantunkan oleh Siti Jubaidah. Sultan Abidin mendatangi rumah Siti Jubaidah yang sedang membaca Al-qur’an dengan alasan ingin menumpang mandi. Wahai bapak, tutur Sultan Abidin yang mencoba berbicara kepada orangtua Siti Jubaidah yang kebetulan duduk didepan rumah, "apakah saya boleh menumpang mandi disini, karena saya merupakan perantau yang jauh dan tidak memiliki tempat tinggal", Bapak Siti Jubaidahpun menjawab "silahkan wahai anak muda".

Saat masuk kerumah, Sultan Abidin melirik Siti Jubaidah yang sedang membacakan ayat Al-Qur’an. Terpancar wajah cantik dan putih yang membuat Sultan Abidin terpana dan terdiam saat melihat Siti Jubaidah. Waktu itu Sultan Abidin belum mengenali Siti Jubaidah, Sultan Abidin bertanya melalui bapak Siti Jubaidah yang kebetulan mengijinkannya untuk masuk kerumah. Wahai bapak, siapakah nama Dayang tersebut? Dia adalah Siti Jubaidah seorang anak desa yang bersuara Indah.

Tanpa pikir panjang Sultan Abidin ingin menikahi Siti Jubaidah. Dan berkata wahai penduduk rumah aku adalah seorang pengembara yang berasal dari negeri Arab ingin menikahi Siti Jubaidah. Siti Jubaidahpun terkejut, padahal Siti Jubaidah dan Sultan Abidin belum pernah mengenal satu sama lain. Dari Abdullah Sani umar Bakri yang merupakan kerabat dari Siti Jubaidah  membawa Sultan Abidin langsung bertunangan dengan Siti Jubaidah. Mendangar hal tersebut dengan bergegasnya Sultan Abidin memberikan cicin kepada Siti Jubaidah dan melaksanakan tunangan serta menikah dengan syariat Islam.

Ketika itu Sultan Abidin membangun kerajaan negeri Suhaid. Kerajaan kecil yang terletak disebuah desa terpencil tempat Siti Jubaidah tinggal. Sewaaktu ketika ada seorang bapak-bapak yang mengadu permasalannya kepada Sultan Abidin. Bapak tersebut mengatakan bahwasahnya anaknya ingin dinikahi oleh orang China dan ingin diambil secara paksa. Tapi bapak tersebut tidak menginginkan pernikahan mereka karena dari keluarga wanita adalah orang muslim sedangkan pihak lelaki China merupakan kaum Tionghoa. Hal ini memicu perperangan antara kaum China dan Muslim di desa. Sultan Abidinpun memberikan ide kepada bapak tersebut untuk membuat berita bohong kepada kaum China bahwasahnya putri beliau telah meninggal dunia agar China pulang ke Negerinya dan tidak mengejar wanita tersebut. Chinapun meninggalkan desa Suhaid tapi anak bapak tersebut dinikahi dengan Sultan Abidin karena untuk melindungi anaknya yang sedang terancam dari warga China. Siti Jubaidahpun menerima hal tersebut dan istri Sultan Abidin berjumlah dua orang.

Di Istana mereka tentram dan bahagia bahkan dua istri tersebut akur dalam satu rumah. Tiba-tiba saat Siti Jubaidah mengajarkan baca tulis al-Qur’an pada masyarakat keraton. China datang kembali dan memberontak. Kali ini mereka menangkap Sultan Abidin, Abdullah Sani dan Umar Bakrie yang merupakan pemimpin Istana Keraton. Penangkapan tersebut berawal dari Sultan Abidin dan kaumnya menyerang orang-orang China yang mengakibatkan perperangan. Mereka dikalahkan oleh China dan akhirnya ditawan oleh orang China. Siti Jubaidah tidak mengetahui tentang perperangan tersebut dan diapun lari ke Benua Nenek Kebayan karena mendengar dari istana bahwasahnya Sultan Abidin telah tertangkap

Siti Jubaidah berbicara kepada neneknya untuk meminta ijin untuk keluar Istana padahal ketika itu Siti Jubaidah sedang hamil besar. Tiba-tiba saat perjalanan Siti Jubaidah melahirkan anak lelaki tanpa ada orang yang menolong. Anak tersebut diberi dengan nama Ahmad. Siti Jubaidah membawa anaknya ke bukit untuk bertemu dengan Kadi untuk mencari ilmu di bukit. Bermacam-macam ilmu yang Siti Jubaidah pelajari sepeti ilmu penawar racun untuk menjadi wanita yang tangguh. Siti Jubaidah berguru dengan seorang wanita saudara dari raja Mahram. Siti Jubaidah meminta pertolongan untuk bekerja sama menghancurkan China untuk mengambil kembali Sultan Abidin yang ditawan oleh orang-orang China. Siti Jubaidah dan seorang wanita saudara dari raja Mahram menyelinap dan menyerupai seorang laki-laki untuk melepaskan Sultan Abidin di penjara.

Tujuh pemimpin China adalah wanita semua. Kebetulan sewaktu itu Siti Jubaidah menyamar menjadi laki-laki dan satu diantara wanita China menyukai Siti Jubaidah dengan nama samaran yaitu Saha dan temannya bernama Naha dan mereka berdua menulis sebuah surat untuk kerajaan negeri Iraq agar bisa menolong Sultan Abidin yang tertawan. Waktu itu raja Iraq dan Iran sedang berburu di tanah Sultan Abidin. Ternyata raja Iraq adalah saudara Siti Jubaidah yang telah lama berpisah dikarenakan dulunya Siti Jubaidah Putri Bungsu tersesat di Negeri Suhaid.

Siti Jubaidahpun menemukan Sultan Abidin yang sedang diikat dengan tali. Siti Jubaidah menghampiri dan mencoba membuka tali tersebut. Sultan Abidin terkejut dan bertanya siapa engkau wahai lelaki tampan?, aku adalah Saha (ucap Siti Jubaidah yang saat itu menyamar menjadi laki-laki). Sultan Abidinpun bertanya kembali, apakah engkau mengenali Siti Jubaidah. Dia tidak mengetahui kalau sebenarnya Saha merupakan seorang wanita yang bernama Siti Jubaidah yang merupakan istrinya sendiri. Siti Jubaidahpun membuka penyamaranya dan mengatakan wahai Abidin ini aku Siti Jubaidah. Sultan Abidinpun menangis dan memeluk Siti Jubaidah lalu menyayikan sebuah syair yang berjudul Siti Jubaidah wanita cantik dan setia.

Wanita China yang menyukai Siti Jubaidah yang ketika itu menyamar menjadi Saha dinikahkan Siti Jubaidah dengan Suaminya Sultan Abidin dan merekapun bekeluarga. Sultan Abidin memiliki tiga orang Istri yang setia dan cantik. Sultan Abidin dan Istri-istrinya lari kembali ke istana tapi saat tiba di Istana kerajaan telah roboh dihancurkan oleh orang-orang China. Dan kejaraan barupun muncul yang dibawa oleh anak Sultan Abidin dari Siti Jubaidah bernama Ahmad. Syair Siti Jubaidahpun berkumandang merdu saat mereka menyanyikannya dan menjadikan sebuah cerita kesetian dan kelebaran hati seorang Siti Jubaidah.


Dipublikasikan    : 15 November 2020

Penulis                   : Bibi Suprianto 

Narasumber         : Almarhum. H. Bilal Mad

Jumat, 02 Oktober 2020

Perum atau Pedak Makanan unik dari Kapuas Hulu

Perum atau Pedak Makanan unik dari Kapuas Hulu

 

Perum atau Pedak Makanan unik dari Kapuas Hulu - Perum atau pedak salah satu makanan yang biasa dibuat oleh warga masyarakat Kapuas Hulu. Perum merupakan olahan makanan yang berasal dari ikan yang dicapurkan dengan berbagai macam bumbu. Biasanya perum dibuat menggunakan ikan kecil seperti Bilis, Udang ataupun Seluang yang didiperoleh oleh nelayan melalui jaring penangkap ikan.

Sebelum itu, hal yang perlu dibuat untuk membuat makanan perum yaitu beras yang di oseng hingga gosong. Uniknya beras yang di oseng sampai gosong tersebut menjadi bahan utama dalam membuat makanan perum. Ini merupakan makanan yang sangat menarik bagi banyak orang, apalagi makanan ini hanya ada di daerah Kalimantan Barat.

Setelah beras di oseng sampai gosong kemudian beras tersebut didinginkan sekitar 20 menit sampai 1 jam proses. Saat beras tersebut sudah hitam dan dingin barulah dimasukkan dengan ikan Bilis, Udang, ataupun Seluang kedalam wadah yang telah disiapkan dengan Bawang Putih, Bawang Merah, Garam dan Cabe. Barulah digoreng dengan minyak goreng secukupnya.

Di Desa Nanga Suhaid Kabupaten Kapuas Hulu Kalimantan Barat, makanan perum dibuat oleh salah satu warga yang bernama ibu Juleha. Banyak masyarakat yang membeli kepadanya. Biasanya ibu Juleha menjual makanan perum yang masih mentah atau belum di goreng dengan harga 5 sampai 6 ribu per ons. Ibu Juleha mengatakan setiap hari perum yang dijual bisa laku 4 sampai 10 bungkus tergantung dengan harga minat pada masyarakat perdesaan.

Makanan ini sangatlah enak jika dimakan dengan nasi yang masih panas. Rasanya gurih, manis, dan pedas menjadi satu ketika dinikmati.

Jadi, jika kalian berkunjung di desa Nanga Suhaid Kabupaten Kapuas Hulu Kalimantan Barat jangan lupa untuk mencari makanan perum yang merupakan salah satu makanan buatan asli Kapuas hulu.



Penulis : Bibi Suprianto

Update : 2 Oktober 2020

Wawancara: Ibu Juleha (2 Oktober 2020)


Kamis, 03 September 2020

RINGAU:  Ikan Mungil Kapuas Hulu Kalimantan Barat dengan Harga Jutaan.

RINGAU: Ikan Mungil Kapuas Hulu Kalimantan Barat dengan Harga Jutaan.

 


RINGAU:  Ikan Mungil Kapuas Hulu Kalimantan Barat dengan Harga JutaanRingau adalah ikan air tawar yang sangat disukai oleh banyak orang. Ikan ini memiliki ciri khas ikan yang unik pada badannya. Keunikan tersebut seperti garis gambar pada badannya yang bisa menentukan harga ikan ini mahal ataupun murah saat dijual. Selain itu ikan Ringau juga sebagai ikan hias yang senantiasa menjadi kontes seseorang untuk berbisnis dengan orang luar. Hal ini menjadikan sebuah ladang usaha masyarakat untuk mencari nafkah bagi kehidupan.

Ikan Ringau memiliki bermacam-macam harga dari bentuk dan ciri khas garis pada setiap ikan tersebut.

Pertama, ikan Ringau bar (bintang) 3

memiliki 3 garis bintang yang biasa disebut oleh para pebisnis desa dengan sebutan 3 bar (bintang). Ikan ini sangat sulit dicari oleh banyak orang dan harganya  sangat mendukung bagi penghasilan masyarakat. Harganya dihitung berdasarkan ukuran badan dan garis, berkisar 30.000 dikali 1 cm. biasanya orang-orang yang mendapatkan ikan Ringau bintang 3 sebesar 11 cm dengan hasil pendapatan 363.000 untuk satu ekor. Jika masyarakat mendapatkan 4 sampai 5 ekor dalam satu hari tentu akan menghasilkan pendapatan sekitar 1.5 sampai 2 juta.

Kedua, ikan Ringau bar (bintang) 4

Sama halnya dengan ikan bar 3, bar 4 memiliki harga yang sedikit berbeda kisaran 20.000 per 1 cm. Rata-rata masyarakat desa Suhaid Kabupaten Kapuas Hulu mendapatkan ikan ringau sebesar 13 cm dengan harga satuan 260.000 untuk satu ekor. Harga ini diikuti dengan jumlah yang mereka dapat, biasanya perhari masyarakat mencari ikan Ringau di desa Suhaid bisa menghasilkan 3 sampai 5 ekor ikan. Jika dihitungkan 5 ekor untuk satu hari bisa menambahkan penghasilan kisaran 1 sampai 1,5 juta.

Ikan Ringau Short Body

Short body sangat jarang didapatkan oleh para pemancing, tapi terkadang ada juga yang mendapatkannya tanpa diduga oleh para pemancing. Harganya juga sangat menarik bagi masyarakat. Biasanya 1 ekor dengan ukuran badan 13 cm berkisar 3 sampai 5 juta. Bayangkan hanya satu ekor ikan tersebut kita mampu membeli kebutuhan pangan bagi keluarga.

Ikan Ringau biasanya ditemukan oleh pemancing di sungai yang memiliki batang ataupun telampung yang berlubang kecil. Lubang tersebut merupakan sarang bagi ikan Ringau. Banyak orang yang mengatakan ikan ini tidak pernah lari dari lubang batang tersebut dan dapat dikatakan lubang tersebut merupakan sarang bagi ikan Ringau.

Dengan harga yang melambung pada setiap ikan tentu sangat menarik jika ikan tersebut dibudidayakan pada daerah yang kita miliki. Jika diternakan tentu orang-orang tidak susah mencari ikan Ringau dengan cara memancing setiap hari. Cukup untuk mempelihara ikan tersebut sampai mempunyai banyak bibit dan dijual bisa menghasilkan tabungan yang begitu tinggi bagi kehidupan.


Penulis : Bibi Suprianto

Kamis, 3 September 2020

Senin, 24 Agustus 2020

Potret Pekerjaan Pesisir Kalimantan Barat di Desa Nanga Suhaid Kabupaten Kapuas Hulu

Potret Pekerjaan Pesisir Kalimantan Barat di Desa Nanga Suhaid Kabupaten Kapuas Hulu

 Potret Pekerjaan Pesisir Kalimantan Barat di Desa Nanga Suhaid Kabupaten Kapuas Hulu - Indonesia adalah negara yang memiliki ribuan hektar tanah dan jutaan rumah penduduk yang bermukiman pada suatu tempat. Selain itu Indonesia masih tergolong negara yang memiliki tingkat kekayaan pada sumber bumi manusia. Salah satunya yaitu pulau-pulau yang memiliki berbagai macam kekayaan yang tersimpan dan terpendam diberbagai wilayah Indonesia.

Sebut saja pulau Kalimantan Barat, pulau ini memiliki ciri khas serta keunikan tersendiri pada alam sekitar. Ciri khas tersebut tergambar pada pekerjaan yang ada di pesisir Kalimantan Barat yaitu desa Nanga Suhaid Kabupaten Kapuas Hulu.

Desa Suhaid merupakan desa yang terletak di perairan Sungai yang memiliki sumber kekayaan ikan yang melimpah. Desa ini berdekatan dengan Danau Sentarum. Danau sentarum salah satu wilayah milik desa Nanga Suhaid. Hal tersebut telah ditetapkan oleh kerajan-kerajaan terdahulu yang tinggal di Nanga Suhaid.

Desa Nanga Suhaid adalah desa terpencil yang mayoritas penduduknya bekerja sebagai Nelayan, Petani dan berbisnis. Bisa dikatakan masyarakat desa ini masih banyak memerlukan lowongan pekerjaan.

Dalam hal ini penulis ingin menyampaikan Potret pekerjaan masyarakat pesisis Kalimantan Barat khususnya desa Suhaid kabupaten Kapuas Hulu.

Bubu (sejenis jaring benang dibuat seperti perumahan ikan)

Bubu adalah salah satu alat pekerjaan masyarakat Nelayan yang ada di desa Nanga Suhaid. bubu dapat merupakan rumah penghasil ikan yang singgah didalamnya, sehingga ketika bubu tersebut dibangun pada perairan sungai, maka akan mudah ikan masuk dan bersarang pada bubu tersebut. Tapi sulit dipungkiri, karena bubu merupakan pekerjaan yang sangat menguras energi para nelayan sedangkan penghasilan tidak dapat menutupi uang bensin untuk berlayar. Hal inilah yang mungkin menjadi saksi bisu bahwasahnya masyarakat bekerja dengan keras tapi perekonomian tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan. Ikan-ikan yang biasanya didapatkan oleh masyarakat merupakan ikan yang masih dalam berkembang biak. Terkadang ada ikan yang bisa mereka budidayakan kembali untuk kepentingan bersama seperti halnya anak ikan Patin atau Baung. Ikan tersebut mereka masukkan kedalam kurung atau kolam yang biasa menampung ikan, setelah besar ikan tersebut baru dipanenkan. Sedangkan ikan kecil lainnya biasanya sebagai umpan ikan arwana ataupun ikan toman yang mereka pelihara. Bubu inilah sebagai kunci masyarakat mencari ikan kecil untuk makanan ikan peliharaan yang ada di desa.

Pengilar (Sejenis kayu yang dibuat seperti kurung ikan)

PengilarSelain Bubu pekerjaan yang ada di desa Suhaid Kabupaten Kapuas Hulu yaitu pengilar. Salah satu bentuk dari pengilar yaitu berpetak empat dengan ukuran panjang 4 meter dan lebar 2 meter ukuran yang begitu besar untuk menangkap ikan. Pengilar biasanya di pasang pada perairan yang sangat dalam. Ada juga yang memasangnya diperairan sungai dekat pantai. Hal tersebut sesuai dengan mata pencarian ikan para nelayan. Jika pengilar dipasang pada perairan sungai dekat pantai maka akan ada ikan air tawar yang didapatkan seperti ikan Belida, Toman dan Patin. 

Ikan Belida (Chitala) - Hasil dari Pengilar yang dipasang pada sungai dekat pantai.

Sedangkan jika pengilar dipasang pada permukaan air yang dalam akan mudah menangkap ikan yang besar seperti Seladang dan Tapah. Tentu tidak setiap hari masyarakat bisa mendapatkan ikan dari dalam pengilar yang mereka buat. Apalagi ukuran yang besar dan berat membuat para nelayan kualahan untuk mencari ikan. Dan juga pada perairan sungai yang dipasang dengan pengilar memiliki musim tertentu untuk mendapatkan ikan Belida, Patin, Seladang dan Tapah.

Ikan Seladang - Hasil Pengilar diperairan yang dalam.

Menganyi atau bertani

Menganyi salah satu pekerjaan yang ada didesa Suhaid seperti halnya bertani. Dalam hal ini masyarakat berladang dengan jangka waktu yang tidak begitu panjang. Ketika air surut berbulan-bulan maka mereka siap untuk menanam tumbuh-tumbahan seperti buah tomat, terong, entimun dan daun-daun hijau sepeti kangkung untuk dijual ke pasar dan juga daun puri. Tapi ketika air mulai pasang berbulan-bulan para petani tidak bisa mengayi kembali dikarenakan sember tanaman telah tenggelam dan tidak bisa menghasilkan kembali.

Potret pekerjaan masyarakat desa Suhaid kabupaten Kapuas Hulu, Kalimantan Barat menggambarkan bahwasahnya perlu sekali kekayaan alam yang tersimpan di desa dikembangkan dan dipertahankan untuk menumbuhkan perekonomian masyarakat. Apalagi jika banyak lowongan pekerjaan yang tumbuh pada pedesaan mungkin tidak ada pengangguran dan kesakitan masyarakat yang mengeluh akan pekerjaan yang mereka miliki. Karena seiring perkembangan zaman tuntutan masyarakat semakin tinggi sedangkan penghasilan tidak pernah berubah pada diri. Tentu ini menjadikan pusat perhatian yang harus dibenah untuk kemakmuran masyarakat.

Penulis : Bibi Suprianto
www.borneolive.com
24 Agustus 2020

Selasa, 07 Juli 2020

Ikan Baung Spesies Mirip Hiu dengan Harga Puluhan Juta

Ikan Baung Spesies Mirip Hiu dengan Harga Puluhan Juta








Sedikit mengejuklan dunia saat ini di perairan sungai Kapuas khusunya Kabupaten Kapuas Hulu Provinsi Kalimantan Barat, ikan yang dulunya biasa-biasa saja dengan harga perkilo 35-50 ribu di pasaran kini dijual dengan harga puluhan juta. Ikan itu adalah ikan Baung Putih yang kini di gencar oleh masyarakat dengan harga yang begitu drastis.
Ikan baung Putih adalah ikan air tawar yang berada di Kepulauan Borneo khusunya Kabupaten Kapuas Hulu Provinsi Kalimantan Barat. Ikan ini mirip dengan spesies Hiu yang hidup di perairan laut namun ikan ini memiliki ukuran yang sangat kecil dari Hiu, ukurannya dengan panjang sekitar 30 cm dan lebar 5 cm.
Ikan baung putih ditemukan orang-orang ketika musim ikan telah tiba, musim ikan yang terjadi kerap hampir dua bulan sekali di musim kemarau tapi terkadang ikan ini langka ditemukan oleh orang-orang setempat dikarenakan spesies ikan ini memiliki warna putih albino yang menarik.
Biasanya orang-orang mendapatkan ikan albino melalui bubu atapun pengilar yang mereka pasang diperairan sungai. Jika sudah mendapatkannya dengan cepat mereka menyebarkannya ke sosial media dan menawarkan kepada toke ataupun bos ikan yang ada di kota.
Lalu berapakah hargai ikan ini, ikan ini biasanya diambil oleh toke ataupun bos China yang telah tertarik dengan ikan baung putih, biasanya mereka menawarkannya dengan harga puluhan juta. Sungguh harga ini merupakan harga yang fantastic jika kita bandingkan dengan dengan gaji pegawai  perbulan.
Hasan Basri warga kampung Suhaid mengatakan pada wawancara (7 juli 2020 ) mengatakan di Kapuas hulu Kecamatan Suhaid sudah pernah mendapatkan ikan ini, biasanya ikan ini ada yang warna albino dan warna merah harganya puluhan juta. Biasanya orang china membeli ikan ini untuk dikonteskan atau dipamerkan di negara lain atau diperkotaan karena ikan ini sama halnya seperti ikan raja tutur pak Hasan. 
Banyangkan jika ikan ini di ambil oleh toke China dengan harga satu ekor 10 juta (sepuluh juta) dan kita mendapatkan 5 ekor ikan dalam satu hari tentu kita akan banyak uang dan sukses secara mendadak. Apalagi jika kita mendapatkan ikan ini dalam hitungan hari perekor tentu kita telah mengalahkan gajinya seorang insinyur ataupun jendral sekalipun.
Bagaiman kita bisa menjual ikan ini ke toke atau bos ikan, untuk hal tersebut di daearah Kecamatan Suhaid Kabupaten Kapuas Hulu Provinsi Kalimantan Barat telah mempunyai jaringan bisnis anak muda, yang mana jaringan tersebut mereka buka untuk mengekspor ikan-ikan langka ke pembeli ikan. Dengan adanya jaringan tersebut masyarakat lebih mudah menjualnya kepada sesama masyarakat setempat dan yang memiliki jaringan akan mengantarkannya ke Toke ataupun bos yang ada di kota ataupun diluar negri.
Lalu apakah ikan ini sangat berguna bagi pembeli yang menawarkan puluhan juta uang untuk membeli satu ekor ikan, tentu dengan ketertarikan mereka pada ikan baung putih ini membuat masyarakat yakin bahwasahnya ikan ini sangat berguna bagi mereka, karena ikan ini dihidupkan kembali diperairan China seperti Thailand dan Malaysia kemudian dibudiyakan kembali agar ikan tersebut tidak menjadi langka. Maka ketika Kapuas Hulu adalah perairan air tawar yang mempunyai banyak ikan langka membuat mereka suka untuk mengunjungi Desa Suhaid Kabupaten Kapuas Hulu.
Kenapa ikan ini harus di jual kepada orang China dan tidak di budidayakan pada dearah setempat karena ketertakutan akan kehilangan ikan tersebut? dengan perekonomian masyarakat suhaid yang suka berbisnis dengan berbagai macam ikan membuat mereka tidak takut untuk menjual ikan langka karena mereka tau ikan tersebut akan selalu ada di perairan mereka selagi perairan tetap menghasilkan ikan karena ikan baung putih di hasilkan dari ikan baung warna coklat yang kini masih banyak diperairan dan kemungkinan besar akan membuahi ikan tersebut kembali.
Inilah yang dinamakan anugrah, ikan yang tidak pernah ada diperairan Suhaid tiba-tiba ada diperairan tersebut serta menguntungkan penduduk setempat. Lagi-lagi ikan adalah objek yang sangat penting selain bisa di makan ikan juga bisa di jadikan hias yang berguna. Tetaplah menjaga ikan dan berilah hubungan yang saling menguntungkan antara manusia dan hewan agar kita bisa mensyukuri nikmat yang telah Allah titipkan.







penulis : Bibi Suprianto
bibisuprianto78@gmail.com
Wawancara : Hasan Basri 
ditulis pada 7 Juli 2020

Rabu, 12 September 2018

Budidaya Ikan Arwana atau Ikan Silok Kapus Hulu Kalimantan Barat

Budidaya Ikan Arwana atau Ikan Silok Kapus Hulu Kalimantan Barat


Saya akan melanjutkan untuk meperkenalkan jenis ikan dari Pulau Borneo yang terkenal dengan kekayaan flora dan faunanya. Kali ini, saya dengan bangga memperkenalkan Ikan Arwana atau dalam bahasa lokal di Borneo Barat biasa disebut Ikan Silok. Ikan Arwana merupakan ikan hias yang sangat mahal harganya dan diperjualbelikan tidak hanya di kawasan Borneo saja tetapi juga dinekal luas di luar negeri. Banyak orang menyukai jenis ikan ini, terutama bangsa China yang memang telah lama mengagumi Ikan Arwana tersebut.

Di Kecamatan Nanga Suhaid Kabupaten Kapuas Hulu, ikan ini kerap dipanggil dengan sebutan ikan Silok. Ada yang mengatakan bahwa oleh penduduk lokal Silok adalah ikan yang dipercaya untuk melambangkan daerah Nanga Suhaid Kapubaten Kapuas Hulu. Jika anda pergi ke Kapuas Hulu Kecamatan Nanga Suhaid di sana anda akan dikatakan telah menginjak Bumi Arwana yang mana tempat tersebut terdapat berbagai macam jenis Ikan Arwana yang berada tidak hanya di sungai dan danau tetapi juga di kolam ikan Arwana yang dimiliki oleh hampir setiap warga.

Sebagaimana dimaklumi, Ikan Arwana merupakan ikan yang sudah dibudidayakan dan menjadi ikan hias di rumah maupun di kolam kolam di kawasan Kapuas Hulu di Pulau Borneo. Ikan Arwana akan mengalami proses dikawinkan untuk mendapat bibit-bibit yang baik. Perkawinan ikan tersebut dapat melahirkan banyak anak Ikan Arwana yang siap dipanen dan dijual di daerah ataupun di luar Negeri.

Jenis yang paling mahal harganya adalah Ikan Arwana Red atau Arwana Merah. Induk ikan yang sudah beberapa kali beranak saja memiliki pasaran sekitar 10 juta sampai 15 juta, sedangkan anak-anaknya yang baru melahirkan atau masih membawa telor di perutnya dengan ukuran sepanjang batang korek api memiliki pasaran sekitar 2 juta rupiah. Jika Ikan Arwana tersebut melahirkan 50 ekor anak Arwana Red maka pemelik Arwana akan dapat memiliki ratusan juta rupiah. Apalagi jika ikan tersebut Upnormal, seperti warna Albino asli polos, yang harganya berkisar 70-an juta rupiah dengan ukuran sebesar telunjuk jari tangan orang dewasa. Demikian gambaran pasaran Ikan Arwana dalam dunia ikan hias.

Jika Ikan Arwana merah sangat beharga dan bahkan mampu melebihi gaji seorang guru maupun dosen di Indonesia, tapi ternyata ada juga jenis Ikan Arwana lain yang memiliki nilai harga sangat murah, yaitu jenis Ikan Arwana Brazil. Jenis ini berwarna putih dan ada warna sedikit kemerah-merahan pada ekor. Ikan Arwana jenis Brazil ini dengan ukuran sebesar telunjuk tangan orang dewasa dapat dipasarkan dengan harga berkisar 15 ribu rupiah saja per ekornya. Walaupun demikian jenis ikan ini jika dibudidayakan dengan baik maka dapat memberikan penghasilan yang lumayan perbulan; jika ikan induk melahirkan sebanyak 200 ekor maka akan mampu memberikan uang berkisar 2 atau 3 jutaan.

Perawatan Ikan Arwana tergolong lebih rumit dibandingkan dengan ikan hias lainya. Ikan Arwana tidak dapat hidup di air yang kotor karena ikan tersebut harus dalam keaddan steril dalam perawatanya. Jika diletakkan di dalam akurium maka ikan tersebut membutuhkan air yang diganti sebanyak 3 atau 4 kali sehari. Jika terlambat penggantian airnya maka akan beresiko pada kematian ikan Arwana tersebut.

Akuarium atau kolam Ikan Arwana juga perlu memiliki penyaring air dan pompa air untuk menjaga kebersihan airnya, khususnya agar steril dari kotoran setelah sisa makanan atau kotoran tersaring dengan baik dan dibuang. Para pedagang Arwana yang sebagian besar berasal dari kalangan warga ertnis Tianghua (Chinese) benyak yang berkunjung ke Kecamatan Nanga Suhaid Kabupaten Kapuas Hulu akhir-akhir ini untuk berbisnis ikan Arwana. Mereka lah yang melakukan perdagangan lintas negara dengan melakukan ekspor Ikan Arwana ke luar kota maupun ke luar negeri dengan harga yang menjanjikan.

Dalam analisis ekonomi, potensi Ikan Arwana di pedalaman Kalimantan Barat ini merupakan sebuah potensi ekonomi kerakyatan yang sangat penting. Banyak warga pedalaman Borneo di kawasan Kapuas Hulu yang telah terjun de dalam dunia budidaya Ikan Arwana yang justru penting untuk diperhatikan. Dengan potensi Ikan Arwana yang memiliki harga yang sangat mahal dan beharga ini diharapkan dapat meningkatkan taraf kehidupan masyarakat sehingga semakin tinggi angka indeks kebahagiaan warga setempat. Bahkan perekonomian warga masyarakat Kapuas Hulu, khususnya Anga Suhaid, yang memelihara ikan ini dapat menjadi lebih maju.

Dukungan pemerintah yang telah membantu memberikan bantuan layanan jaringan media dan internet untuk kemajuan jaringan pemasaran Ikan Arwana merupakan sebuah investasi penting. Sistem internet di Nanga Suhaid Kabupaten Kapuas Hulu saat ini berkapasitas 4G dan sebagian besar masyarakat seperti anak-anak, remaja, dan  orang dewasa telah mampu menggunakan Smartphone yang canggih dalam bermedia. Sebagian orang juga telah melakukan jual beli Ikan Arwana melalui media dengan cara poto dan vidio kemudia share. Orang yang berminat akan datang dengan sendirinya untuk membeli Ikan Arwana yang dinimatinya setelah mendapatkan info via media berbasis internet. Saat ini terbukti bahwa Ikan Arwana merupakan salah satu mata penghasilan masyarakat Nanga Suhaid yang sangat penting selain Ikan Seladang, salai ikan dan daun Purik

Penulis: Bibi Suprianto
Danau Sentarum Kalimantan Barat: Habitat Ikan Seladang

Danau Sentarum Kalimantan Barat: Habitat Ikan Seladang


Salah satu andalan kekayaan lokal di Pulau Borneo adalah berbagai jenis ikan yang merupakan habitat khas pulau tersebut. Bahkan peneliti dari Eropa pernah datang meneliti tentang jenis ikan di Danau Sentarum di Kapuas Hulu dan menemukan sejumlah nama ikan baru yang tidak pernah diketahui sebelumnya oleh mereka. Nah, jenis-jenis ikan tersebut masih perlu diteliti lagi sehingga dapat dikenal olh khalayak rami bahkan dunia. Berikut ini Bibi Suprianto akan mengenalkan salah satu jenis ikan yang merupakan habitat di hulu Sungai Kapuas di Kalimantan Barat.

Ikan Seladang, ya namanya memang demikian, merupakan ikan air tawar atau air sungai yang berada di Kapuas Hulu. Ikan tersebut berada di berbagai macam sungai yang ada di kecamatan-kecamatan, seperti Sungai Jongkong, Sungai Selimbau, Sungai Piasak, Bunut Hulu, Hilir dan Nanga Suhaid. Ikan Seladang merupakan ikan yang mempunyai harga pasaran yang lumayan mahal tergantung dengan masuk ukuran; ada ukuran A dan B. Ikan seladang yang berukuran A itu berkisar antara 3-10 Kg dengan harga Rp 90.000/ Kg. Ikan dengan ukuran B ada dua macam; yang pertama 1-2,5Kg dan 11-20 Kg keatas satu ekor dengan harga sekitar Rp. 60.000/kg. Selain ikan seladang yang terkenal dikapuas hulu ada juga yang menarik dan tak kalah nilai ekonominya yaitu Budidaya Ikan Arwana atau Ikan Silok

Harga ikan tersebut adalah di kawasan Kapuas Hulu, Kalimantan Barat. Ikan Seladang sangat diminati oleh penarik atau bandar ikan. Syukurnya, setiap harinya nelayan selalu mendapatkan ikan seladang tersebut. Dengan penghasilan ikan seladang tersebut mereka mampu mempertahankan perekonomian rumah tangga. Tidak heran jika setiap harinya nelayan dengan satu perahu dapat menghasilkan 1-5 juta rupiah perhari. Panen ikan Seladang tersebut juga tergantung pada musimnya, jika kemarau dan ainya surut maka ikan tersebut akan mudah didapatkan oleh orang banyak.

Di Nanga Suhaid, hampir setiap warga juga bekerja menjerat atau merangkap ikan Seladang di sungai sebagai usaha sampingan dari bekerja berladang dan berkebun. Ikan Seladang pada umumnya merupakan ikan yang liar yang bersembunyi di sungai Kapuas. Ikan tersebut akan membanjiri sungai-sungai di sekitar Sungai Kapuas ketika kemarau, tetapi disaat air pasang ikan tersebut tidak ada muncul lagi. Anehnya ketika air surut ikan itu selalu ada dan bahkan muncul dalam jumlah yang banyak sehingga setiap harinya warga masyarakat Nanga Suhaid selalu dapat panen ikan tersebut. Apakah ini adalah anugrah yang diberikan oleh Sang Kuasa untuk memajikan perekonomian penduduk Kapuas Hulu atau malah sebaliknya merupakan suatu cobaan untuk masyarakat apakah mereka bisa bersyukur ataupun tidak dari apa yang mereka dapatkan.

Pada sekitar tahun 2014 atau tahun tahun sebelumnya Ikan Seladang tidak lah ditemukan sebanyak tahun-tahun 2015 di perairan Sungai Kapuas. Sekarang (2018) perlahan lahan ikan tersebut melonjak populasinya dan banyak ditemukan di Sungai Kapuas dan anak-anak sungainya. Di Nanga Suhaid di tahun 2015-2017 ikan tersebut yang berukuran A memiliki hargan jual antara Rp.65.000-75.000/kg dan yang berukuran B berkisar Rp.30.000-35.000/kg. Tapi ketika di tahun 2018 ikan tersebut melonjak naik harganya. Ikan dengan ukuran A dijual dengan harga berkisar Rp.90.000/kg dan yang dengan ukuran B berkisar Rp.50.000. Kenaikan harga tersebut membuat warga Nanga Suhaid gencar mencari ikan Seladang sebagai penghasilan tambahan.

Ternyata Ikan Seladang bukan hanya dijual di pasaran lokal tapi juga dikirim ke luar negeri sebagai produk ekspor. Negara tujuan ekspor Ikan Seladang yang dapat diinventarisir sementara ini meliputi Malaysia, Singapura, dan Brunei Darussalam. Persaingan dagang produk Ikan Seladang juga cukup kuat, terkadang pembeli bahkan nekad untuk mengikuti nelayan yang mencari ikan tersebut untuk bisa dijual kepadanya sehingga pembeli tingkat pertama tersebut dapat menjualnya sampai ke luar negeri. Begitu pula sebaliknya, nelayan juga mengambil keuntungan dari pembeli yang rela mengikuti mereka untuk membeli ikan tersebut dengan menaikkan harganya.

Untuk olahan kuliner, Ikan Seladang lebih sedap rasnya jika dimasak dengan sistem frementasi tradisional sebelum dimasak dengan resep lainya. Dalam bahasa lokal masyarakat pesisir Sungai Kapuas di Kapuas Hulu, Ikan Seladang yang difermentasi disebut dengan istilah jukut yang merupakan salah satu jenis makanan khas Kapuas Hulu yang terkenal dan disukai oleh banyak orang. Masyarakat perkotaan biasanya mengenal jenis makanan khas ini dengan istilah ikan jukut. Ikan Seladang tersebut dipotong kecil kecil kemudian dagingnya dicampurkan dengan garam dan nasi secukupnya setelah itu dimasukkan kedalam toples yang tertutup rapat dab didiamkan selama beberapa hari.

Setelah terasa asamnya barulah dimasak sesuai selera untuk kemudian disantab. Dagingnya yang begitu lezat dahsyat merupakan makanan yang kaya akan protein sehingga dapat mengakibatkan ketagihan untuk makan jukut ikan tersebut. Pada musimnya tiba, banyak orang dari dataran atas Kapuas Hulu yang turun ke pesisir untuk menukar lauk ikan dengan buah-buahan yang mereka hasilkan sehingga interaksi yang penting yang dapat mendorong perubahan-perubahan sosial dalam kehidupan masyarakat Kapuas Hulu di bumi Borneo.

Penulis: Bibi Suprianto