Tampilkan postingan dengan label borneo. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label borneo. Tampilkan semua postingan

Jumat, 26 Februari 2021

THE BEAUFULNESS OF LESTARI BEACH IN TANAH HITAM VILLAGE, PALOH DISTRICT, SAMBAS REGENCY

THE BEAUFULNESS OF LESTARI BEACH IN TANAH HITAM VILLAGE, PALOH DISTRICT, SAMBAS REGENCY

 


Each area has its own uniqueness and natural beauty, including in Tanah Hitam Village, Paloh District, Sambas Regency. This place is an area that does not only exist in the popularity of the people of Sambas Regency but also people outside Sambas Regency. Tanah Hitam is a village located in the East Paloh Sub-district, directly adjacent to the Sajingan Besar District and East Malaysia. In this place, Malay is the most famous culture, which is also related to many tourist destinations that are able to attract tourists every day.

Lestari Beach is one of the tourist objects that quite famous and still exists from the past until now. Apart from its quite beautiful natural scenery, the location of the beach is also very strategic and easy to access, so that many people inside and outside the Sambas district tend to be interested in visiting this natural beach tourism destination. In addition, Lestari Beach has the beauty of its clean beach sand. Not everyone is able to come to the beach area because it is closely guarded by local residents. The entrance fee is affordable, which is 5000 rupiah for a motorcycle and 10,000 rupiahs for a car. This price is valid until now. Maybe, there will be an increase in prices due to the conditions of the Covid-19 pandemic.

Apart from the tourist objects, every Sunday, there is a silat (martial-art) training held by the Benteng Mukmin academy. I have seen how fighters train together on the beach. They practice every morning. What a beautiful sight when I saw their compactness. The wind and waves highlighting the shoreline made me want to join them in training. In essence, there are no words of regret when you visit Lestari beach.

Author          Ebby Abadi ( Member of the English Community Hukum Ekonomi Syariah IAIN Pontianak "The King of HES")

Photo by     Facebook, Rafi Syahputra, 2020

Publish         : February, 26th 2021

Jumat, 04 Desember 2020

Bukit Kelam, Batu Raksasa Yang Terbaring Di Bumi Senentang

Bukit Kelam, Batu Raksasa Yang Terbaring Di Bumi Senentang

 

     Bukit Kelam atau Gunung Kelam merupakan sebuah batu raksasa (monoloit) yang terletak di Kalimantan Barat, tepatnya di Kabupaten Sintang. Karena ukurannya yang sangat besar batu ini berbentuk layaknya bukit atau gunung dan memiliki ketinggian 1.002 meter diastas permukaan laut (mdpl). Mayoritas masyarakat Sintang dan juga Kalimantan barat menyebut batu tersebut dengan Bukit Kelam. Ukurannya yang menjulang tinggi membuat Bukit Kelam Nampak gagah jika di lihat dari dekat.

      Posisi Bukit Kelam membentang dari barat ke timur dan menjadi salah satu icon kota Sintang di Kalimantan barat. Bukit Kelam terletak di wilayah Hutan Wisata kecamatan Sintang Permai, kabupaten Sintang Kalimantan barat. Jarak Bukit Kelam dengan pusat Kota Sintang sekitar 20 km dan 395 km dari kota Pontianak, ibu kota Provinsi Kalimantan barat.

        Selain menjadi tempat wisata dengan background Bukit Kelam yang indah, Bukit Kelam juga menjadi tempat bagi para pecinta alam dari berbagai daerah untuk melakukan pendakian. Bukit Kelam bisa  di naiki dengan waktu sekitar 4-5 jam. Dinding batu yang curam membuat tidak sembarangan orang bisa menaiki Bukit ini, bagi siapa saja yang ingin mendaki Bukit Kelam hendaknya sudah terlatih dan melakukan persiapan yang matang.

    Namun bagi sebagian orang yang suka dengan tantangan, Bukit Kelam menjadi salah satu opsi. Tingkat kecuraman Bukit Kelam terbilang cukup ekstrem daripada Gunung-gunung biasanya yang cenderung landai. Sehingga hal tersebut menarik para pendaki dari berbagai daerah di Kalimantan barat untuk mencoba sensasi dan tantangan mendaki Bukit Kelam.

Bukit Kelam juga menjadi habitat alami dari tumbuhan langka Kantong Semar, dilansir dari Jurnal Redfern Natural History, MPherson, S.R pernah menulis jurnal pada tahun 2009 dengan judul Pitcher Plants of the old World dimana didalamnya dijelaskan bahwa Bukit Kelam merupakan salah satu habitat yang dikenal paling penting di dunia untuk tanaman Kantong Semar. Bukit Kelam juga menjadi rumah bagi 14 spesies yang berbeda, salah satunya yang endemik dan hanya bisa di temukan di Bukit Kelam adalah Nepenthes Clipetea yang sampai saat ini di anggap menjadi jenis spesies yang paling terancam punah dari spesies lainnya.

    Tanaman Kantong Semar tummbuh disisi tebing granit vertical pada ketinggian antara 500-800 meter. Sebagaian besar tanaman Kantong Semar tumbuh di sudut-sudut jelas dari bukit jauh dari jangkauan. Selain Kantong Semar, Bukit Kelam juga menjadi habitat Anggrek Hitam, sedangkan hewan yang hidup di Bukit Kelam adalah Beruang Madu dan Trenggiling. Selain itu gua-gua yang terdapat di celah-celah Bukit Kelam juga menjadi tempat tinggal dari burung wallet dan burung-burung lainnya.

    Sejarah terbentuknya Bukit Kelam yang menjadi cerita legenda yang berkembang pada masyarakat Sintang dan di ceritakan secara turun-temurun adalah cerita tentang seorang sakti yang bernama Bujang Beji yang memikul sebongkah batu dari Kapuas Hulu untuk membendung sungai Melawi. Hal tersebut dilakukan karena Bujang Beji merasa iri dengan Temenggung Marubai yang menguasai sungai Melawi. Selain itu karena rasa iri hati Bujang Beji yang selalu mendapat tangkapan ikan yang lebih sedikit dari Tumenggung Marubai. Karena itu membuat ia ingin membendung aliran sungai melawi dengan batu besar pada hulu sungai melawi. Akan tetapi saat dalam perjalanan, para Dewi di kahyangan menertawainya sehingga membut Bujang Beji marah dan tali pengikat yang terbuat dari rumput putus. Batu tersebut kemudian jatuh di sebuah lembah yang bernama Jetak, Bujang Beji berusaha mengangkat kembali batu tersebut, namun batu tersebut sudah melekat dan tidak bisa diangkat lagi. Selain cerita masyarakat tersebut, keberadaan Bukit Kelam dikabarkan sebagai sebuah Meteor yang jatuh di Kota Sintang pada jutaan tahun yang lalu.

    Bukit Kelam memiliki potensi untuk dikembangkan sebagai wisata alami  yang terdapat di Kabupaten Sintang. Keindahan alam yang masih asri harus dijaga kelestariannya, karena selain sebagi simbol atau icon Kota Sintang. Bukit Kelam juga menjadi simbol bagi kelestarian alam di tengah masifnya perkembangan perkebunan Kelapa Sawit yang membabat sebagian hutan di Kalimantan barat dan Kalimantan tengah.

      Bukit Kelam juga menjadi sarana bagi wisata alam dan pusat studi kearifan lokal Kota Sintang. Wisatawan yang datang dari luar daerah bisa sekaligus belajar tetang kehidupan masyarakat Dayak di sekitar Bukit Kelam yang menjaga kelestarian Bukit Kelam sehingga kearifan lokal masih bertahan hingga sekarang. Keunikan-keunikan tradisi dan budaya masyarakat di sekitar Bukit Kelam nilai tambah bagi wisatawan yang hendak berlibur ke Bukit Kelam.

 

Penulis/ Author  : Zakaria Effendi

Published            : 4 Desember 2020

 

Minggu, 15 November 2020

Syair Siti Jubaidah Desa Suhaid Kabupaten Kapuas Hulu, Kalimantan Barat.

Syair Siti Jubaidah Desa Suhaid Kabupaten Kapuas Hulu, Kalimantan Barat.

 


Syair Siti Jubaidah Desa Suhaid Kabupaten Kapuas Hulu-Beranjak dari suatu pengalaman penulis berinteraksi dengan salah satu orang tertua di desa Nanga Suhaid dusun Madang Permai. Kakek tersebut bernama H. Bilal Mad yang merupakan salah satu tokoh agama desa Suhaid. Cerita ini diambil ketika Kakek H. Bilal Mad menjadi salah satu narasumber kami untuk penelitian ditahun 2018. Kami mengambil data untuk penelitian kemudian dia bercerita kepada penulis tentang sejarah Syair Siti Jubaidah. pada tahun 2019 Kakek H. Bilal Mad telah meninggal dunia dan cerita Syair Jubaidah menjadi ingatan si penulis ingin menyambung cerita ini.

Syair Siti Jubaidah Desa Suhaid Kabupaten Kapuas Hulu-Siti Jubaidah adalah wanita dari Iran, pulau Perenggi. Berawal dari Sultan Abidin yang memutuskan untuk merantau dan tidak mau menikah, Sultan Abidin berlayar dan belabuh di negeri Suhaid. Ketika itu Sultan Abidin mengembara dan melewati perumahan warga desa. Saat diperjalanan Sultan Abidin melihat Siti Jubaidah yang sedang mengajar ngaji, Sultan Abidin penasaran dengan suara yang merdu yang dilantunkan oleh Siti Jubaidah. Sultan Abidin mendatangi rumah Siti Jubaidah yang sedang membaca Al-qur’an dengan alasan ingin menumpang mandi. Wahai bapak, tutur Sultan Abidin yang mencoba berbicara kepada orangtua Siti Jubaidah yang kebetulan duduk didepan rumah, "apakah saya boleh menumpang mandi disini, karena saya merupakan perantau yang jauh dan tidak memiliki tempat tinggal", Bapak Siti Jubaidahpun menjawab "silahkan wahai anak muda".

Saat masuk kerumah, Sultan Abidin melirik Siti Jubaidah yang sedang membacakan ayat Al-Qur’an. Terpancar wajah cantik dan putih yang membuat Sultan Abidin terpana dan terdiam saat melihat Siti Jubaidah. Waktu itu Sultan Abidin belum mengenali Siti Jubaidah, Sultan Abidin bertanya melalui bapak Siti Jubaidah yang kebetulan mengijinkannya untuk masuk kerumah. Wahai bapak, siapakah nama Dayang tersebut? Dia adalah Siti Jubaidah seorang anak desa yang bersuara Indah.

Tanpa pikir panjang Sultan Abidin ingin menikahi Siti Jubaidah. Dan berkata wahai penduduk rumah aku adalah seorang pengembara yang berasal dari negeri Arab ingin menikahi Siti Jubaidah. Siti Jubaidahpun terkejut, padahal Siti Jubaidah dan Sultan Abidin belum pernah mengenal satu sama lain. Dari Abdullah Sani umar Bakri yang merupakan kerabat dari Siti Jubaidah  membawa Sultan Abidin langsung bertunangan dengan Siti Jubaidah. Mendangar hal tersebut dengan bergegasnya Sultan Abidin memberikan cicin kepada Siti Jubaidah dan melaksanakan tunangan serta menikah dengan syariat Islam.

Ketika itu Sultan Abidin membangun kerajaan negeri Suhaid. Kerajaan kecil yang terletak disebuah desa terpencil tempat Siti Jubaidah tinggal. Sewaaktu ketika ada seorang bapak-bapak yang mengadu permasalannya kepada Sultan Abidin. Bapak tersebut mengatakan bahwasahnya anaknya ingin dinikahi oleh orang China dan ingin diambil secara paksa. Tapi bapak tersebut tidak menginginkan pernikahan mereka karena dari keluarga wanita adalah orang muslim sedangkan pihak lelaki China merupakan kaum Tionghoa. Hal ini memicu perperangan antara kaum China dan Muslim di desa. Sultan Abidinpun memberikan ide kepada bapak tersebut untuk membuat berita bohong kepada kaum China bahwasahnya putri beliau telah meninggal dunia agar China pulang ke Negerinya dan tidak mengejar wanita tersebut. Chinapun meninggalkan desa Suhaid tapi anak bapak tersebut dinikahi dengan Sultan Abidin karena untuk melindungi anaknya yang sedang terancam dari warga China. Siti Jubaidahpun menerima hal tersebut dan istri Sultan Abidin berjumlah dua orang.

Di Istana mereka tentram dan bahagia bahkan dua istri tersebut akur dalam satu rumah. Tiba-tiba saat Siti Jubaidah mengajarkan baca tulis al-Qur’an pada masyarakat keraton. China datang kembali dan memberontak. Kali ini mereka menangkap Sultan Abidin, Abdullah Sani dan Umar Bakrie yang merupakan pemimpin Istana Keraton. Penangkapan tersebut berawal dari Sultan Abidin dan kaumnya menyerang orang-orang China yang mengakibatkan perperangan. Mereka dikalahkan oleh China dan akhirnya ditawan oleh orang China. Siti Jubaidah tidak mengetahui tentang perperangan tersebut dan diapun lari ke Benua Nenek Kebayan karena mendengar dari istana bahwasahnya Sultan Abidin telah tertangkap

Siti Jubaidah berbicara kepada neneknya untuk meminta ijin untuk keluar Istana padahal ketika itu Siti Jubaidah sedang hamil besar. Tiba-tiba saat perjalanan Siti Jubaidah melahirkan anak lelaki tanpa ada orang yang menolong. Anak tersebut diberi dengan nama Ahmad. Siti Jubaidah membawa anaknya ke bukit untuk bertemu dengan Kadi untuk mencari ilmu di bukit. Bermacam-macam ilmu yang Siti Jubaidah pelajari sepeti ilmu penawar racun untuk menjadi wanita yang tangguh. Siti Jubaidah berguru dengan seorang wanita saudara dari raja Mahram. Siti Jubaidah meminta pertolongan untuk bekerja sama menghancurkan China untuk mengambil kembali Sultan Abidin yang ditawan oleh orang-orang China. Siti Jubaidah dan seorang wanita saudara dari raja Mahram menyelinap dan menyerupai seorang laki-laki untuk melepaskan Sultan Abidin di penjara.

Tujuh pemimpin China adalah wanita semua. Kebetulan sewaktu itu Siti Jubaidah menyamar menjadi laki-laki dan satu diantara wanita China menyukai Siti Jubaidah dengan nama samaran yaitu Saha dan temannya bernama Naha dan mereka berdua menulis sebuah surat untuk kerajaan negeri Iraq agar bisa menolong Sultan Abidin yang tertawan. Waktu itu raja Iraq dan Iran sedang berburu di tanah Sultan Abidin. Ternyata raja Iraq adalah saudara Siti Jubaidah yang telah lama berpisah dikarenakan dulunya Siti Jubaidah Putri Bungsu tersesat di Negeri Suhaid.

Siti Jubaidahpun menemukan Sultan Abidin yang sedang diikat dengan tali. Siti Jubaidah menghampiri dan mencoba membuka tali tersebut. Sultan Abidin terkejut dan bertanya siapa engkau wahai lelaki tampan?, aku adalah Saha (ucap Siti Jubaidah yang saat itu menyamar menjadi laki-laki). Sultan Abidinpun bertanya kembali, apakah engkau mengenali Siti Jubaidah. Dia tidak mengetahui kalau sebenarnya Saha merupakan seorang wanita yang bernama Siti Jubaidah yang merupakan istrinya sendiri. Siti Jubaidahpun membuka penyamaranya dan mengatakan wahai Abidin ini aku Siti Jubaidah. Sultan Abidinpun menangis dan memeluk Siti Jubaidah lalu menyayikan sebuah syair yang berjudul Siti Jubaidah wanita cantik dan setia.

Wanita China yang menyukai Siti Jubaidah yang ketika itu menyamar menjadi Saha dinikahkan Siti Jubaidah dengan Suaminya Sultan Abidin dan merekapun bekeluarga. Sultan Abidin memiliki tiga orang Istri yang setia dan cantik. Sultan Abidin dan Istri-istrinya lari kembali ke istana tapi saat tiba di Istana kerajaan telah roboh dihancurkan oleh orang-orang China. Dan kejaraan barupun muncul yang dibawa oleh anak Sultan Abidin dari Siti Jubaidah bernama Ahmad. Syair Siti Jubaidahpun berkumandang merdu saat mereka menyanyikannya dan menjadikan sebuah cerita kesetian dan kelebaran hati seorang Siti Jubaidah.


Dipublikasikan    : 15 November 2020

Penulis                   : Bibi Suprianto 

Narasumber         : Almarhum. H. Bilal Mad

Minggu, 18 Oktober 2020

Bubur pedas merupakan Makanan Khas Daerah Sambas Kalimantan Barat.

Bubur pedas merupakan Makanan Khas Daerah Sambas Kalimantan Barat.

 

Bubur Pedas - Bubur pedas merupakan makanan khas daerah Sambas Kalimantan Barat. Makanan ini sangat diminati oleh banyak orang. Ke istimewaannya yaitu terletak pada rasa dan bahannya yang mengunggah selera. Bubur pedas kini banyak dijual diberbagai daerah contoh saja, Pontianak dan Kapuas Hulu dengan harga berkisar  10 sampai 12 ribu rupiah permangkok. Tentu harga tesebut adalah harga terjangkau bagi masyarakat. Apalagi jika masyarakat bisa membuat bubur pedas sendiri tanpa membeli ke warung mungkin harga dan takaran bubur pedas akan berbeda. Untuk itu sebelum membuat bubur pedas, langkah-langkah ini akan mempermudah masyarakat untuk membuat bubur pedas sendiri. Bahan-bahan dasar dan pembuatannya sebagai berikut:

Pertama, bumbu arok dicampur dengan kelapa yang sudah diparut kemudian di Sangrai (oseng) tanpa minyak bersamaan dengan ketumbar, darmanis dan beras. Dengan catatan langkah pertama jangan sampai hangus atau gosong.

Kedua, bahan tersebut diblender sampai halus sehingga bisa dicampuri dengan bahan seperti pakis, daun kunyit, daun kasum, daun singkel (daun buas-buas), baput, bamer dan lengkuas.

Adapun bahan-bahan sunnahnya yaitu berupa ubi jalar/ ubi kayu yang telah diiris dan halus, kemudian jagung, wartel serta kulat ataupun jamur yang menjadi selera dalam pembuatan bubur pedas.



Dengan banyaknya daerah yang bisa membuat bubur pedas akan menjadikan makanan tersebut semakin terkenal. Makanan ini merupakan makanan yang sangat mudah dibuat asalkan bahan serta langkah-langkah pembuatan telah tepat disiapkan. Resep awal akan membantu proses pembuatan yang mungkin bisa menjadi persiapan bahan-bahan utama.

Penambahan berbagai rasa seperti kecap, cuka atau jeruk nipis dan bumbu lainnya akan menambahkan selera makan pada diri kita. Sehingga tidak cukup bagi kita memakan bubur pedas hanya satu mangkok saja.

Jika kita ingin mencari bubur pedas maka berkunjunglah didaerah Sambas Kalimantan Barat atau daerah sekitarnya seperti Pontianak dan Kapuas Hulu. Tulisan ini ditulis berdasarkan pengalaman serta keinginan untuk berbagi informasi tentang makanan di Kepulauan Borneo khusunya Kalimantan Barat.

 

 

Penulis             : Hetty Rianti & Bibi Suprianto

Sumber Poto   : Hetty Rianti


Rabu, 30 September 2020

Menakjubkan!!  Salah Satu Warga Desa Nanga Suhaid Kabupaten Kapuas Hulu mendapatkan Ikan Tapah sebesar 34 KG

Menakjubkan!! Salah Satu Warga Desa Nanga Suhaid Kabupaten Kapuas Hulu mendapatkan Ikan Tapah sebesar 34 KG



Menakjubkan!! Salah satu Warga Desa Nanga Suhaid Kabupaten Kapuas Hulu mendapatkan Ikan Tapah sebesar 34 KG- Saat ini masyarakat desa Suhaid Kabupaten Kapuas Hulu dihebohkan dengan ikan tapah sebesar 34 Kg pada perairan Sungai Kapuas. Ikan tersebut didapatkan oleh seorang nelayan yang bernama  Reman salah satu warga dusun Tanjung Kapuas desa Nanga Suhaid.

Ikan tersebut dijual kepada salah satu warga yang menjadi toke pada setiap desa. Menurut Akbar salah satu toke besar di dusun Tanjung Kapuas desa Nanga Suhaid mengatakan ikan tersebut mereka beli dengan harga 50.000/ Kilo, ikan tersebut mereka kirim ke Sintang menggunakan transportasi pickup truck dengan ongkir 2500 perkilo, biasanya pengemasannya menggunakan fiber box  ditambahkan es batu lalu disesuikan dengan tempat yang cukup untuk menampung, Ujar Akbar. Akbar juga mengatakan ikan ini biasanya didapatkan oleh warga nelayan hampir setiap akhir tahun.

Saat ini Sungai Kapuas sedang dilanda dengan banjir tapi tidak menurunkan semangat warga untuk mencari ikan diperairan Sungai. Fenomena ikan Tapah terbesar bukan hanya sekali ini saja masyarakat tersebut mendapatkannya. Masih banyak ikan Tapah di perairan sungai tersebut. Sungai yang begitu besar memberikan warna dan cerita bagi rakyat desa Nanga Suhaid sebagai penghasilan dan pekerjaan mereka dipelayaran Nelayan.

 

Penulis : Bibi Suprianto

Wawancara : Akbar (30-09-2020)

Update : 30-09-2020

Minggu, 23 Agustus 2020

Budaya Tar Pada Masyarakat Melayu Teluk Pakedai, Kalimantan Barat.

Budaya Tar Pada Masyarakat Melayu Teluk Pakedai, Kalimantan Barat.


Budaya Tar pada Masyarakat Melayu Teluk Pekedai Kalimantan Barat - merupakan suatu tradisi yang terus menerus di lakukan, dalam  keadaan dan waktu  tertentu. Bahkan budaya yang sangat melekat dengan masyarakat bisa menjadi adat, yang apabila di tinggalkan ada suatu konsekuansi bagi mereka yang sengaja untuk meninggalkannya. Negara kita tercintai ini kaya akan Budaya, Bahasa, Suku, dan Agama. Keberagaman inilah yang menjadikan Indonesia sebagai negeri warna warni kehidupan.

Dari keberagaman itulah para pahlawan kemerdekan Indonesia membuat suatu semoboyan Bhenika Tunggal Ika yang di artikan Berbeda-beda Tetap Satu Tujuan yakni tegaknya keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) meskipun di naungi perbedaan.

Melayu merupakan salah satu Suku yang lahir sebelum merdekanya negeri ini. Bahkan sampai saat ini, bukan hanya ada di Indonesia melainkan beberapa Negara ada orang-orang Melayunya, seperti Malaysia, Brunei, Singapure, Thailand, dan lain-lain. Di Indonesia sendiri Bahasa Melayu menjadi bahasa Nasional yang setiap warga Negaranya harus bisa berbicara menggunakan bahasa ini.

Masyarakat Melayu juga kaya akan Tradisi dan Budaya yang mana sampai saat ini masih tegak berdiri dan terus dilestarikan oleh generasi-genarsi baru. Sebagai mayoritas masyarakat Melayu. Kec. Teluk Pakedai Kab. Kubu Raya Kalimantan Barat. Terus memegang amanat dari para leluhurnya untuk terus mempertahankan tradisi ini. Tradisi menabu Tar, karena sebuah pepatah Adat Melayu mengatakan biar mati anak, jangan mati adat/tradisi. Pepatah itu mencerminkan betapa pentingnya keberadaan adat dalam kehidupan masyarakat Melayu.

Budaya Tar adalah salah satu Budaya alat musik Melayu ini, sampai sekarang terus menunjukan eksistensinya baik di masyarakat teradisional maupun masyarakat modern. Adanya pembinaan dan regenerasi dari pendahulunya membuat Budaya Melayu yang satu ini terus berkembang. Di Teluk Pakedai setidaknya sudah ada 2 komunitas Tar yakni Nurul Akbar dan Raudatul Khadra Nurul Falah.

Alat musik yang terbuat dari Kayu Leban, Kulit Sapi, dan Tembaga. Di sulap menjadi suatu alat musik yang enak di dengar karena memiliki 3 pesan suara yang berbeda, yang disebut anak 1 anak 2 dan anak 3. Musik ini di mainkan oleh 3 orang penabu, masing-masing penabu memegang kata kunci yang berbeda dan bunyi yang berbeda. Apabila sudah di satukan akan membentuk suatu bunyi yang menunjukan ciri khasnya. Tentunya harus dimainkan oleh yang ahli, yang sudah terlatih, agar mendapatkan bunyi yang diinginkan.


Macam-macam tradisi yang diiringi dengan alat Tar: 

1. Pernikahan

Dalam suatu acara pernikahan bagi masyarakat Melayu dan Bugis tidak pernah meninggalkan tradisi yang satu ini. Terutama ketika mengantar mempelai pengantin pria ke tempat resepsi, pasti di iringi oleh Tabuan Tar yang menghiasi suasana pengantaran mempelai pria tersebut. Setibanya di rumah Walimatul Ursy, Para Penabu Tar akan menunjukan pertunjukan Nyanyian sekaligus diiringi Tabuan Tar tersebut. Lagu Sholawat dan Dzikir kepada Allah itulah kalimat-kalimat yang di sugukan, tak lupa pantun atau puisi di persembahkan untuk pengantin sambil di iringi Tabuan Tar.

2. Khataman Qur’an

Bagi Masyarakat Melayu dan Bugis, terutama di Teluk Pakedai apabila sudah menghatamkan nagjinya baik anak-anak, pemuda, maupun orang tua. Maka akan di buat acara selamatan Khataman Qur’an. Bagi yang berkhatam, maka ia akan di arak dari rumah yang sudah di tentukan, baik itu rumah keluarga, suadara, ataupun yang lainnya untuk menuju ketempat di laksanakan-Nya acara Khataman Qur’an tersebut. Biasanya acara Khataman Qur;an ini sama besarnya dengan acara pernikahan, karena memang mereka menghargai kepada mereka yang sudah berhasil menghatamkan Al-Quran sebanyak 30 Juz. Bisa di bilang itu sebagai hadiah untuk mereka.

3. Berzanjian

Ketika naik rumah baru, naik tojang anak yang baru lahir, merolahan. Maka akan di adakan acara berzanjian yang di baca adalah maulidurrosul. Kitab yang digunakan adalah syariful anam barzanji nasor berzanji nazom. Ketika membacakan syariful anam maka akan di iringi oleh Tabuan Tar yang menjadi pelengkap dalam pembacaan syariful anam.

Sebagai masyarakat Melayu dan Bugis tentunya kita bangga memiliki Budaya yang sampai saat ini terus berkembang baik dikalangan orang tua, pemuda hingga anak-anak. Sebagai generasi penerus, anak-anak Melayu terutama Melayu Teluk Pakedai untuk bisa terus mempertahankan dan melestarikan budaya ini mengingat pepatah, kecil dikandung Ibu, Besar dikandung adat, dan mati dikandung tanah.


Penulis        : Ahmad

Publikasi     : 23 Agustus 2020

www. borneolive.com

Selasa, 07 Juli 2020

Pesona Kota Samarinda Kalimantan Timur

Pesona Kota Samarinda Kalimantan Timur

Sedikit mengiringi melodi perjalanan pulau Borneo khususnya kota Samarinda Kalimantan Timur. Kota yang penuh akan suasana keramaian dan ekpestasi tentang mimpi untuk menjadi maju dan berkualitas. Kota yang seakan-akan memiliki persaingan untuk menjadi ibu kota negara Republik Indonesia. Kota yang memiliki seribu pesona pada budaya dan distinasi alam yang berkualitas.
Tidak bisa dipungkiri kota ini selalu menjadi objek para peneliti dan wisatawan untuk mengambil dokumen, data, dan distinasi ke indahan alam yang ada di wilayah Samarinda.
Samarindah adalah kota yang memiliki picture dengan berbagai macam corak budaya baik dari suku Bugis, Banjar, Melayu dan Dayak. Meskipun kebanyakan di sana adalah budaya Banjar.
Kali ini saya akan menceritakan pengalaman saya saat berkunjung di kota Samarinda, setelah penutupan event Borneo Undergraduate Academic Forum ke 4, event di mana banyak mahasiswa-mahasiswa bergengsi se-PTKIN Indonesia mempresentasikan karya ilmiah mereka di Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Samarinda.
Sedikit menceritakan ritorika perjalanan, waktu itu kami dari Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Pontianak di utus sebanyak 17 orang untuk mengikuti event BUAF Samarinda dengan jumlah yang begitu banyak dan membuat kami berhasil mendapatan penghargaan yang tidak bisa disesali dalam hidup kami sebagai peserta terbanyak kedua setelah UIN Antasari Banjarmasin, selain itu kami juga mendapatkan penghargaan paper terbaik.
Tapi penghargaan tersebut tidak seberapa berharga bagi kami, ada penghargaan yang lebih bagus lagi ketimbang kami harus menjadi paper terbaik dan paper terbanyak kedua. Penghargaan terbaik bagi kami yaitu saat bisa berkunjung ke kota Samarinda mengitari sungai Mahakam yang membuat kami Samarindu akan tempat tersebut.
Menurut salah satu teman saya Ahmad Yani pada tanggal (7 Juni 2020) mengatakan kota Samarinda merupakan kota yang luar biasa, kenapa luar biasa? karena di dalamnya luar dari pada biasanya dari segi infrastrukturnya jalannya mengingatkan akan jalan seperti di Jakarta mulai dari tolnya, selain itu pemandangan di Kota Samarinda masih cendrung tidak terlalu padat, masih ada nuansa alamnya. 
kemudian juga di Samarinda memiliki wisata yang sangat memuaskan bagi saya, seperti contohnya Islamic center dan Sungai Mahakam. Kota Samarinda ini sangat terkenal dengan pesut Mahakamnya, yang saya sayangkan adalah saya tidak bisa bertemu dengan pesut Mahakam dan pengalaman saya ialah ketika saya mengikuti BUAF yang ke 4 di Samarinda ketika tour ke Sungai Mahakam saya tidak melihat satupun pesut Mahakam timbul. Kalau ada pesut yang timbul mungkin ini luar biasa ini kota karena masih ada nuansa alamnya disana.
kemudian juga Ahmad Yani mengatakan kota Samarinda ini pertama kali saya datang saya berpikir apa sih makna kota taman Samarinda salah satu objek wisatanya? ternyata dapat kita pelajari bahwa Samarinda artinya Sama rendah, bahwasahnya masyarakat yang tinggal di desa tersebut tawaddu' kenapa tawaddu' karena mereka menganggap kita sederajat sama rendah. Perjalanan sangat luar biasa ketika saya berjalan dengan Mister Bibie saya mampu membuka wawasan saya dan bercanda riya yang ujar Ahmad Yani (wawancara via whatsapp)
Samarindu adalah perkataan yang tepat ketika kita menginjakkan kaki di kota ini, kenapa? Karena tempat ini selalu mengingatkan kita akan perjalanan-perjalanan yang pernah kita lalui, harmoninya persaudaran saat kita berjumpa dan pergi serta kedamaian menikmati alam membuat kita bersatu dan ingin kembali lagi ke Samarinda,  inilah yang mengakibatkan kerinduan yang mendalam dalam hati kita.
Kota ini terletak diantara dataran tinggi dan sungai Mahakam, sungai Mahakam inilah tempat tour bagi peserta event BUAF 4 di Samarinda. Sungai yang memiliki ukuran yang begitu panjang.
saat itu kami berlayar kesungai dengan menggunakan kapal Bandung, kapal yang biasanya membawa pengunjung mengitari sungai Mahakam. Seakan-akan kami tidak bisa selesai menikmati perjalanan di Sungai yang begitu panjang. Dengan lantunan melodi dan musik yang membuat kami merasa bahagia serta terharu disetiap perjalanan.
Kitika itu hujanpun tidak kami hiraukan saat mengitari sungai Mahakam, walaupun diperjalanan kami terkena hujan yang tidak begitu deras kami tetap melanjutkan perjalanan.
Dari sungai Mahakam terlihat pelangi yang begitu indah ketika hujan berhenti dan angin spoy-spoy membuat kami terasa tentram, damai dan nyaman.
Sungai Mahakam Samarinda membawa kami kedimensi di mana kami saling mengenal, saling bercanda dan saling tertawa. Keseruan tersebut tidak ada bandingnya ketika kami mempresentasikan paper kami. Keakraban tercipta ketika kami rihlah bersama dosen-dosen dan peserta lain.
Tumbuhnya suatu iba yang mengukir suatu perjalanan di kota Samarinda membuat kami menghormati suatu perjalanan yang tidak bisa kami bayangkan untuk kesekian kalinya.
Dosen yang begitu kami segani di perkuliahan dengan perjalanan tersebut kami bisa akrab seperti halnya keluarga.

Mungkin kerinduan mendalam untuk kembali ke Samarinda membuat kami tidak bosan bosanya menjalin pertemanan dengan orang setempat. Karena kota ini adalah kota yang penuh akan kenangan bersama.



Bibi Suprianto
bibisuprianto78@gmail.com
wawancara: Ahmad Yani
Keterangan : poto ini di ambil ketika BUAF 4, oktober 2019
Ditulis pada 8 Juli 2020