Ikan Salai Khas Borneo: Dari Proses Hingga Kirim Keluar Negeri

Ikan Salai Khas Borneo: Dari Proses Hingga Kirim Keluar Negeri


Salai Ikan atau Ikan Salai merupakan sebuah produk olahan ikan yang sangat dikenal di Pulau Borneo. Salai biasanya berasal dari ikan yang  dimasak dengan asap menggunakan bidang tembaga seperti kawat yang diletakkan di atas kayu yang sudah disusun dengan rapi. Pesiapan bahan pemasak asap (pengasap) tersebut dibuat seperti halnya meja yang diberi kayu dengan ukuran jarang dan kemudian diletakkan dengan bidang kawat.

Kayu bakar kemudian diletakkan bersusun di bawahnya dan dibakar untuk menghasilkan api yang cukup dan asap sesuai takaranya. Proses memasak salai (menyalai) tidak sulit dan memakan waktu yang tidak begitu lama karena sebenarnya inti dari proses menyalai adalah mengharapkan asap yang cukup tersebut untuk memasakkan ikan agar menjadi kering. Seorang ahli penyalai, Ibu Juleha, yang ditemui Bibi Suprianto di Nanga Suhaid di wilayah Kapuas Hulu di Pulau Borneo, menyatakan bahwa proses menyalai biasanya memakan waktu satu hari satu hari baru untuk mendapatkan ikan menjadi kering sempurna. Misalnya dari pagi hari hari dijemur, setelah itu itu baru di letakkan diatas parak salai (bidang pemasak salai). Proses penjemurannya sekitar 1 jam.

Menyalai  harus dilakukan di atas permukaan tanah yang jauh dari perumahan, agar asapnya tidak mengganggu karena rumah dapat terkena api salai tersebut. Api tersebut tidak diperbolehkan besar, jika api tersebut membesar maka ditambahkan dan dirapatkan dengan kayu bakar agar tidak terlalu membesar. Jadi, menyalai membutuhkan pengasapan dan panas matahari untuk hasil yang maksimal. Salai ikan yang sudah siap tersebut biasanya dijual di pasaran kepada pengumpul salai, kata ibu Juleha. Harga salai biasanya per satu kilo sekitar 45 ribu rupiah. Salai tersebut harus benar-benar matang dan kering sebelum dijualkan kepada pengumpul.

Salai yang baik akan diminati oleh banyak orang. Jenis ikan salai mengikuti jenis ikan yang tersedia. Berbagai macam jenis ikan disalai oleh penduduk di Desa Suhaid, seperti ikan Toman, Baung dan ikan Seluang yang sekarang harganya masih melonjak di sekitar Sungai Kapuas Nanga Suhaid. Namun salai yang paling terkenal adalah Salai Lais. Nah, ikan Salai lais itu merupakan Salai kesukaan pak Dr Zaenuddin Hudi Prasojo yang memang hobi blusukan di pedalaman Borneo. Selain Salainya yang terkenal dikapuas hulu ada juga yang menarik dan tak kalah nilai ekonominya yaitu Budidaya Ikan Arwana atau Ikan Silok

Salai ikan memang terasa gurih (dan angat enak) bila dimasak dicampur dengan sayuran dan sebagai lauk. Apalagi bila salai ikan dimasak dicambur dengan sambal. Dalam harga yang murah standar peminat kuliner salai ikan sebagai pembeli semakin bertambah. Kini salai ikan merupakan produk olahan ikan yang menjadi ciri khas masyarakat pedalaman Pulau Borneo, khususnya yang di bantaran sungai Kapuas seperti wilayah Suhaid Kabupaten Kapuas Hulu. Tetapi, setiap musim panen ikan, persediaan salai di kapuas hulu semakin melonjak di pasaran.

Terkadang di musim kemarau ikan-ikan mudah didapat oleh nelayan. Bahkan nelayan yang membawa ikan terkadang sampai memenuhi satu perahu sehingga kualahan menjualnya dan akhirnya mereka akan menyalai ikan tersebut. Tidak diketahui secara pasti bagaimana para orangtua di zaman dahulu belajar bagaimana caranya menyalai. Mungkin pada zaman dulu secara alamiah mereka mendapat anugrah dari Yang Kuasa di saat tempat masakan yang terlalu minim mereka terpaksa memasak menggunakan kayu dan api yang ada di hutan sehingga terilhami dengan cara menyalai.

Ternyata salai ikan tidak hanya di jual di pasaran lokal saja. Salai juga dikirim ke luar negeri, seperti ke Malaysia, Brunei dan Singapura. Banyak sekali peminat yang ada di luar sana, bahkan jika dikirm ke luar negeri maka nilai untungnya semakin besar karena tukar uang yang begitu memadai. Begitu pula dengan proses pengirimannya, harus melalui prosedur yang berlaku. Untuk ke luar negeri pengiriman tidak boleh sembarangan namun harus dengan surat izin yang sesuai.

Salai ikan merupakan produk inovasi baru dalam citra rasa pembuatan masakan tradisional. Sama halnya dengan dipanggang, tapi ikan salai lebih lokal profesional dalam pembuatannya. Penyalai yang handal akan dapat mengatur api dan asap menyelar standar dan membuat ikan salai sempurna sehingga dapat langsung dinikmati dengan rasa gurih karena tidak sampai gosong ataupun hangus saat dimasak.

Pemasakan tersebut biasanya dipantau walau kadang ditinggalkan untuk beberapa jam dan dtutup dengan kajang ataupun terpal anyanan. Jika dibandingkan antara ikan salai dan ikan panggang, sungguh ikan salai sangatlah lebih enak dan higienis. Salai dimasak dengan hati-hati dalam secara tradisional dan bahkan pembuatannya tersebut sangat teliti dalam prosesnya. Kita mengetahui bahwa ikan adalah makanan yang sangat enak dan mempunyai kandungan protein yang sangat tinggi. Dengan dimasak salai yang sempurna kita akan mendapatkan hasil salai yang baik bergizi tinggi yang berpengaruh pada kondisi kesehatan tubuh.

Penulis: Bibi suprianto
Cari Oleh Oleh Khas Pontianak, Anda Bisa Kunjungi Pasar PSP

Cari Oleh Oleh Khas Pontianak, Anda Bisa Kunjungi Pasar PSP


Pontianak merupakan Kota berkembang dengan tingkat kepadatan penduduk yang memusat. Sebagai kota dengan identitas yang berbeda karena di lalui garis khatulistiwa, pontianak juga sering di sebut dengan sebutan kota khatulistiwa. Ada beberapa versi yang mengisahkan asal-usul nama kota yang identik dengan Sungai Kapuas dan tugu khatulistiwa ini. Di antaranya adalah kisah mistik yang mengisahkan bahwa di Zaman dahulu terdapat banyak hantu kuntilanak. Sebagai ibu kota provinsi kalimantan barat, Pontianak menjadi tempat singgah dan rekreaski bagi orang-orang yang datang ke kalimantan barat.

Banyaknya pendatang yang datang ke pontianak baik untuk berekreasi, faktor pekerjaan maupun hanya sekedar singgah untuk melanjutkan perjalanan ke kota lain, di pontianak terdapat sebuah Pasar oleh-oleh yang menjual oleh-oleh khas Pontianak dan kalimantan barat. Pasar oleh-oleh ini tidak jauh dari pusat kota Pontianak, jalan gajah Mada. Perjalanan bisa di tempuh kurang lebih selama 20 menit dari penginapan-penginapan di jalan gajah Mada pontianak.

Pusat oleh-oleh Pontianak berada di jalan patimura dan bersebelahan dengan gereja terbesar di pontianak, katedral. Pusat belanjan khas pontianak lebih di kenal dengan sebutan Pasar PSP atau Pasar oleh-oleh khas Pontianak. Pasar oleh-oleh ini menjadi salah satu destinasi wisata belanjan di kota pontianak, disini pengunjung dapat berbelanja barang-barang dan makanan khas pontianak dan Kalimantan barat. Pasar PSP buka pagi Hari hingga pukul 22.00. Sehingga banyak kesempatan yang bisa di gunakan bagi pengunjung kota Pontianak untuk berbelanja ke Pasar PSP.

Pasar PSP juga terletak tidak jauh dari alun-alun Kapuas, sehingga ketika pengunjung kota Pontianak berekreasi ke alun-alun Kapuas, tidak perlu jauh-jauh untuk mampir di Pasar PSP. Atau bahkan perjalanan bisa dilakukan satu arah jika anda menginap di hotel – hotel yang berada di jalan Gajah Mada. Kecanggihan teknologi juga bisa di gunakan untuk menemukan Pasar ini, karena mungkin anda tidak sempat untuk bertanya. Maka Google map bisa di gunakan sebagai pununjuk arah untuk Datang ke Pasar oleh-oleh PSP.

Pasar oleh-oleh Pontianak menyediakan berbagai Macam pernak-pernik khas pontianak seperti miniatur tugu khatulistiwa, cindramata ukiran khas dayak dan Melayu, serta kain khas Melayu dan tenunan dayak kalimantan barat. Selain itu di Pasar oleh-oleh Pontianak juga menjual makanan khas pontianak dan kalimantan barat, sehingga bagi Para pendatang yang ingin membawa oleh-oleh dari Pontianak tidak perlu susah payah untuk mencari.

Pasar oleh-oleh Pontianak juga menjadi destinasi rekreaski jalan Kaki di kota pontianak, banyak tempat yang bisa di singgahi di kota pontianak membuat Pasar oleh-oleh Pontianak menjadi salah satu tujuan yang harus di datangi. Berbelanja di Pasar PSP membuat kedatangan anda semakin komplit, karena anda bisa membawa pulang oleh-oleh khas pontianak dan kalimantan barat. Sehingga kedatangan anda ke pontianak dapat terkenang sepanjang waktu.

Penulis: Zakaria Efendi