Tampilkan postingan dengan label pontianak. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label pontianak. Tampilkan semua postingan

Minggu, 13 Desember 2020

Kebudayaan Masyarakat di Sekitar Masjid Jami’ Sultan Syarief Abdurrahman Al-Kadrie

Kebudayaan Masyarakat di Sekitar Masjid Jami’ Sultan Syarief Abdurrahman Al-Kadrie

 


Masjid merupakan tempat peribadatan bagi umat Islam. Selain itu, masjid juga memiliki fungsi lain yaitu sebagai tempat pelaksanaan kegiatan religius kebudayaan yang berkembang di masyarakat setempat. Berbagai kebudayaan itu tentunya akan terdapat perbedaan antar daerah. Semua ini tergantung dari kebudayaan lokal yang masih diasumsi oleh masyarakat di setiap daerah tertantu.

Masjid Jami’ Sultan Syarif Abdurahman Al-Kadrie memiki usia sekitar 246 tahun. Tentu ini bukan lagi usia yang muda, apalagi untuk disandingkan dengan usia Negara Indonesia yang masih sangat belia. Oleh sebab itu, wajar jika bangunan Masjid Jami’ Sultan Syarief abdurahman Al-Kadrie mengalami beberapa kali perenovasian. Dengan usia yang hampir memasuki dua setangah abad itu, tentu banyak sekali kebudayaan yang telah diwarikan dan masih dilakuakan hingga sekarang oleh masyarakat di daerah Pontinak khususnya masyarakat yang tinggal di sekitar masjid.

Area masjid Jami’ Sultan Syarif Abdurahman Al-Qadrie merupakan area tanah yang terpengaruh dengan pasang surut air sungai karena letaknya hanya sekitar beberapa meter dari sungai Kapuas. Jika diperhatikan, masjid ini terlihat seperti terpisah dengan keraton Kadariyah dikarenakan adanya jembatan kecil penghubung antara area keraton dan area masjid. Posisi ini seolah-olah terlihat seperti tanjung pulau yang terpisah dari lahan sekitarnya.

Menurut bapak Syarif Usman (54 tahun)  pertama kali masjid Jami’ Sultan Syarif Abdurrahman Al-Qadrie dibuat sebagaimana yang dijelaskan Usman bin Abdurahman dalam tulisannya yang sampai sekarang dapat dilihat sebagai kaligrafi yang memiliki nilai estetik dan tertata juga menyimpan nilai sejarah. Kaligrafi berisi informasi sejarah berdirinya Masjid jami’ Sultan Syarif Abdurrahman Al-Qadrie berada tepat diatas mimbar. Bagi orang awam, tulisan itu hanya sebagai kaligrafi yang biasa menghiasi masjid, namun bagi seorang peneliti yang terlebih yang ahli bahasa arab akan melihatnya sebagai litesi.

Kebudayaan Masyarakat Pontianak

Menurut Van Peursen (2001: 9) kebudayaan merupakan endapan dari kegiatan dan karya manusia. Berdasarkan data hasil wawancara dengan pak Safendi sebagai ketua RT (4/11/2017) mengatakan jumlah penduduk di kampung tersebut 1260 penduduk, 467 KK,  420 RT 120 RW dan 7 kelurahan. Jika dilihat dari data yang diperoleh tersebut terlihat cukup banyak masyarakat yang menempati daerah kampung beting.  Bapak Syarif Selamat Joesoef Al-Kadrie atau yang lebih akrab disapa Abah Simon yang ditemui di rumahnya  mengungkapkan bahwa banyak sekali kegiatan yang dilakukan masyarakat di sekitar masjid. Adapun diantaranya adalah seprahan, kegiatan ini sedikit berbeda dengan tradisi saprahan yang ada di Sambas ataupun Singkawang. Dari penamaannya juga sudah menunjukkan adanya sedikit perbedaan antara tradisi seprahan di Pontianak dengan saprahan di Sambas dan Singawang. Jika Saprahan setiap orang makan dengan hidangan di dalam talam dengan anggota kelompok sekitar 5-6 orang, maka Seprahan memungkinkan setiap orang makan saling berhadapan di tempat yang sama menggunakan daun pisang yang dipanjangkan.

Sejarah kegiatan secara rutin dilakukakan masjid Sultan Syarif Abdurrahman sulit diperoleh, beberapa sumber memastikan bahwa setiap hari besar Islam dilangsungkan di masjid ini. Terutama saat perayaan maulid nabi Muhammad saw. secara turun-temurun diselenggarakan dengan berbagai kegiatan seperti arak-arakan (Kirap) dari masjid ke alun-alun keraton Kadariah, khitanan massal, pernah juga diadakan pernikahan massal sekitar tahun 1930-an.

Beberapa sumber memastikan bahwa dahulu segala kegiatan (hajat) yang dilakukan keraton Kadariyah senantiasa melibatkan kegiatan pula di lingkungan masjid. Melihat para pendahulunya yang sering dalam menyebarkan syi’ar Islam dengan berprinpsip kepada toleransi budaya yang tinggi, sangat mungkin bahwa masjid Sultan Syarif abdurahman merupakan wadah pengembangan kebudayaan Islam di masa lalu, tidak terlepas pada kegiatan peribadatan. Sekarang ini acara serupa masih dilangsungkan, terutama hari-hari besar Islam. Dan peringatan hari jadi kota Pontianak sampai sekarang masih diselenggarakan di masjid Sultan Syarif Abdurrahman, yang dihadiri oleh Walikota beserta PEMDA kota Pontianak disertai warga sekitar masjid. Selain itu pada bulan Ramadhan, masjid Sultan Syarif Abdurrahman juga menyelenggarakan kegiatan pembinaan keagamaan yang ditujukan kepada  generasi muda (remaja) yakni kegiatan “Perkampungan Ramadhan” yang dilangsungkan selama beberapa hari diawal bulan ramadhan. Serta masjid Sultan Syarif Abdurrahman membuka unit pengelola zakat yang melakukan pengumpulan dan penyaluran zakat fitrah,zakat maal, infaq,dan shadaqah pada bulan ramadhan serta melakukan penyembelihan dan penyaluran hewan qurban pada hari raya idul Adha.

Selain penjelasan di atas, ada pula kebudayaan lain yang dilakukan masyarakat sekitar masjid sebagaimana yang dijelaskan oleh pak penjaga masjid, seperti minum  air berkah dan awet muda di tempayan yang berada di pojok kiri bagian belakang masjid. Terdapat dua buah tempayan yang selalu diisi oleh penjaga masjid setiap ada hujan di hari jum’at sebagai simbol keberkahan.

Kebetulan pula pak penjaga Masjid mendapat cucu perempuan yang baru seminggu dilahirkan, kemudian bayinya dibawa ke mimbar utama, berdasarkan informasi yang di dapat ternyata itu sudah menjadi tradisi bagi pak penjaga Masjid dan masyarakat sekitar masjid untuk mendo’akan kebaikan dan keselamatan bagi bayi yang baru lahir dengan memanjatkan do’a-do’a untuk si bayi. Walau demikian, tidak semua warga masih mau melakukan tradisi tersebut, karena memang setiap kebudayaan pasti akan mengalami pergeseran-pergeseran selaras dengan berkembangnya ilmu pengetahuan.


Penulis        : Dayang Rusna Almuharni

Publish       : 13 Desember 2020


Rabu, 12 September 2018

Kratom atau Daun Purik, Daun Emas Khas Kapuas Hulu Kalimantan Barat

Kratom atau Daun Purik, Daun Emas Khas Kapuas Hulu Kalimantan Barat


Daun Purik merupakan salah satu tanaman yang tumbuh subur di tanah Pulau Borneo, khususnya di daerah Kapuas Hulu pedalaman Kalimantan Barat. Oleh masyarakat Kapuas Hulu, Daun Purik lebih dikenal dengan sebutan Daun Kratoom, tumbuhan yang kaya akan manfaat dan bernilai jual fantastis. Harga jualnya yang cukup tinggi di pasar Eropa dan Amerika membuat tumbuhan jenis herbal ini menjadi sumber ekonomi alternatif bagi masyarakat Kapuas Hulu.

Kratom adalah tanaman psikoaktif yang dimanfaatkan sebagai jamu dan ramuan medis tradisional di sejumlah wilayah Asia tenggara sejak ribuan tahun lalu. Kratom termasuk dalam tanaman Rubiaceae penghasil alkaloid penting seperti kafeina. Tanaman Tropis itu dapat tumbuh hingga setinggi 15 meter dan pemanfaatan dari tanaman ini adalah dengan mengambil daunya. Tanaman ini tumbuh di Negara-negara tropis seperti Thailand, Filipina, Malaysia, Papua Nugini dan Indonesia.

Saat ini masyarakat Kapuas Hulu berbondong-bondong menanam Pohon Kratom karena memang daerah Kapuas Hulu merupakan daerah yang tepat untuk membudidayakan Pohon Kratom. Cara pengolahan Daun Kratom adalah dengan mengambil daunnya kemudian di jemur hingga kering dan diremas menjadi bubuk yang halus. Setelah menjadi bubuk yang halus, serbuk daun Kratom akan di kemas menjadi paket-paket berdasarkan permintaan konsumen. Daun Kratom biasanya juga dikemas dengan cara dimasukan ke dalam kapsul supaya mudah dikonsumsi.

Pemasaran bubuk Kratom lebih banyak di ekspor ke Amerika. Karena memang permintaan pasar dan harga yang cukup tinggi membuat pengusaha serbuk Kratom asal Kapuas Hulu lebih memilih Amerika sebagai tujuan ekspor barang produksinya. Pasar Amerika berani menghargai serbuk kratom dari Kapuas Hulu senilai $70 perkilo serbuk kratom dan $85 jika sudah di kemas dalam bentuk kapsul.

Seperti pada jenis-jenis obat herbal lainnya, rasa daun Kratom cenderung pahit karena memang tanaman ini mengandung alkaloid. Namun meskipun begitu serbuk Daun Kratom memiliki manfaat yang cukup banyak. Pada zaman dulu Pohon Kratom hanya diambil batangnya untuk bahan membangun rumah dan sebagainya. Namun setelah diketahui memiliki banyak manfaat Pohon puri, khususnya daunya, mulai diolah dan menjadi sumber perekonomian baru masyarakat Kapuas Hulu.

Dari pengolahan daun Kratom hingga menjadi Hasil bubuk yang berharga ternyata juga menjadikan bubuk daun Kratom memiliki beberapa jenis dalam pemasarannya. Di antara Hasil olahan daun kratom yang di ekspor adalah jenis-jenis bubuk daun Kratom. Berikut ini adalah beberapa contoh jenis-jenisnya.

#RED
red maengda, red jongkong, red kapuas, red jongkong, red borneo, red-haired, red vietnam, red vietnam, rehabilitation, red kapuas, red maengda, red’s Ankara, dan super red.

#WHITE
white maengda, white jongkong, white Kapuas, white jongkong, white borneo, white tailed, white vietnam, white vietnam, white maengda, Whitehall, white maengda, dan super white.

#GREEN
green maengda, green jongkong, green Kapuas, greenhorn, green borneo, green maengda, green vietnam, green vietnam, green maengda, Greenhill, green Malay, green kali, super green, supervision, super borneo, super maengda, gold, yellow, bentuangie, dan elephant.


Manfaat dari bubuk daun kratom antara lain adalah untuk Rehabilitasi pecandu Narkoba, pelancar pencernaan, obat penenang dan masih banyak lagi. Sebelum berharga mahal, tumbuhan ini ternyata juga sudah biasa dimanfaatkan oleh masyarakat sebagai jamu tradisional yang berguna untuk menyembuhkan berbagai macam penyakit. Dan biasanya pohon kratom tumbuh di pinggir sungai dan rawa yang dekat dengan aliran air.

Dengan adanya daun Puri ternyata telah berhasil mengangkat perekonomian masyarakat Kapuas Hulu, karena seperti kita ketahui daerah yang jauh dari Ibu Kota Provinsi Kaliman barat, Pontianak ini tidak mudah untuk mengembangkan sumber perekonomiannya karena jarak yang jauh dari ibukota provinsi. Dengan adanya fenomena Daun Emas ini diharapkan pemerintah dengan serius melakukan penelitian dan membuat payung hukum untuk melindungi usaha pembudidayaan Pohon Puri. Dengan begitu masyarakat Kapuas Hulu akan mendapatkan rasa aman dalam menjalankan usahanya.

Info Daun Purik atau serbuk kratoom lebih lanjut silahkan kontak admin via email.

Rabu, 05 September 2018

Masjid Jami Pontianak, Masjid Tertua di Pontianak Kalimantan Barat

Masjid Jami Pontianak, Masjid Tertua di Pontianak Kalimantan Barat


Masjid Jami’ Sultan Syarif Abdurrahman Al-Kadrie merupakan masjid yang tertua yang terletak di daerah kampung Beting, Kelurahan Dalam Bugis, Kecamatan Pontianak Timur, Kota Pontianak. Konon katanya, banyak sekali peninggalan sejarah yang ada di dalam pembangunan masjid ini. Simbol-simbol tentang kerajaan dan pendirian masjid Jami’ Sultan Syarief Abdurrahman Al-Kadrie terletak di berbagai bagian masjid tersebut.

Dalam sejarah berdirinya masjid Sultan Syarief Abdurrahman Al-Kadrie, tentu saja terkait dengan masa kepemimpinan dan tokoh pendirinya. Pemimpin keraton yang merupakan tokoh pendiri Masjid Sultan Syarief Abdrurrahman Al-Kadrie merupakan keturunan dari kerajaan yang memiliki trah keluarga di Hadramaut di negeri Arab yang marganya disebut dengan Al-Kadrie. Silsislah-silsilah tersebut selalu dijaga oleh kalangan keluarga mereka, untuk dapat mempertahankan nama keturunan bangsa Arab yang selalu mengalir pada diri mereka. Tidak dapat dipungkiri bahwa mereka mempunyai bakat kepemimpinan dan menjadi panutan masyarakat pada zamanya.

Masjid Jami’ Sultan Syarif Abdurrahman Al-Kadrie terletak tidak jauh dari Keraton Kadariyah yang didirikan oleh Syarif Abdurrahman Al-Kadrie dan diteruskan oleh sultan-sultan dari keluarga Al-Kadrie, yang sekarang dikenal dengan Kampong Beting. Tulisan ini ditulis berkaitan dengan gambaran Masjid Jami’ Sultan Syarief Al-kadrie dan sejarah terbentuknya. Masjid ini adalah bukti sejarah peningalan kesultanan Kadariyah yang menjadi tempat beribadah umat muslim pada zaman kesultanan sebelum kemerdekaan Republik Indonesia.

Masyarakat di kota Pontianak, baik yang berada di wilayah sekitar keraoton maupun di seberang sungai berdatangan untuk menunaikan Shalat Jumat. Sultan memang mewajibkan masyakarat untuk shoalat Jumat di Masjid Jami pada saat itu, khusus untuk wilayah keraton dan sekitarnya. Sedangkan untuk daerah-daerah yang agak jauh, maka cukup dikirim wakilnya saja untuk shalat Jumat di Masjid Jami.

Melalui data yang penulis dapatkan dari  Abah Syarif Selamat Joesoef Alkadrie yang berusia 80 tahun (saat ini di tahun 2018), seorang Pengeran Bendahara kesultanan, melalui data berbentuk lembar teks Sejarah Lahirnya Kota Pontianak (04/11/2017), dapat diketahui bahwa kota Pontianak didirikan oleh Syarif Abdurrahman pada tanggal 23 oktober 1771 yang bertepatan dengan tanggal 14 rajab 1185 H. Kota asal yang menjadi cikal-bakal kota Pontianak dibangun di persimpangan tiga Sungai Kapuas Besar, Sungai Kapuas Kecil dan Sungai Landak.

Kampung yang pertama dimulai dibukannya kota Pontianak sekarang ini dikenal dengan nama Kampung Dalam Bugis, di mana di situ juga terletak Masjid Jami’ (Masjid Sultan Abdurrahman) dan istana kerajaan yang dikenal dengan nama Keraton Kadariyah. Pendirian Masjid Jami’ (Masjid Sultan Abdurrahman) dikepalai oleh Syarif Usman Ibnu Almarhum Sultan Abdurrahman Ibnu Almarhum Al-Habib Husin Tuan besar mempawah bin Achmad bin Husin bin Muhammad Alkadri, pada hari selasa sehari bulan Muharram 1238H.

Sultan Syarif Usman (1819-1855), sultan ke-3 Kesultanan Pontianak, tercatat sebagai sultan yang pertama kali meletakkan fondasi bangunan masjid sekitar tahun 1821 M/1237 H. Bukti bahwa masjid tersebut dibangun oleh Sultan Syarif Usman dapat dilihat pada inskripsi huruf Arab yang terdapat di atas mimbar masjid yang menerangkan bahwa Syarif Usman pada hari selasa bulan Muharam tahun 1237 Hijrah. Berbagai penyempurnaan bangunan masjid terus dilakukan oleh sultan-sultan berikutnya hingga menjadi bentuknya seperti sekarang ini. Untuk menghormati jasa Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri, pendiri kota Pontianak dan sultan pertama kesultanan di sebelah barat Istana Kadriah itu pun diberi nama masjid Jami’ Sultan Abdurrahman.

Sebagai tempat ibadah umat Islam, khususnya untuk melaksanakan ibadah sholat secara berjama’ah, masjid memiliki arsitektur yang berbeda-beda dan unik, termasuk sejarahnya. Masjid Jami’ Sultan Syarif Abdurrahman adalah masjid tertua yang terdapat di kota Pontianak, terutama di Desa Beting Kecamatan Pontianak Selatan. Masjid ini memiliki panjang 33,27 meter dan lebar 27,74 meter. Terdapat enam pilar kayu berlian berdiameter setengah meter di dalam masjid. Selain pilar bundaran, ada juga enam tiang penyangga lainnya yang menjulang ke langit-langit masjid berbentuk bujur sangkar yang berukuran setara dengan kayu belian untuk tiang rumah dewasa, bahkan di atas rata-rata. Di bagian bangunan masjid tersebut juga terdapat denah masjid, ruang masjid, tampat wudhu dan tiang bendera.

Denah masjid merupakan gambaran keberadaan ataupun lingkungan masjid tersebut. Di depan masjid terdapat lapangan yang cukup luas, menyerupai alun-alun yang biasanya ditemukan di tanah Jawa. Beberapa puluh meter di sebelah selatan dari masjid, terdapat Istana Sultan Kraton Kadriyah. Tanah lapang di sekitar masjid dapat kita artikan sebagai ruang tempat tamu ataupun tempat menerima masyarat yang berkunjung pada tempat tersebut.

Tempat wudhu merupakan tempat di mana seseorang ingin mensucikan diri agar bisa melaksanakan sholat dengan sah. Sedangkan tiang yang didirikan di depan masjid tersebut merupakan tiang bendera untuk tanda. Masjid Jami’ (Masjid Sultan Abdurrahman) didirikan pada hari selasa sehari bulan Muharram 1238H. itulah cerita Masjid Jami Pontianak, Masjid Tertua di Pontianak Kalimantan Barat, jika berkunjung ke pontianak anda juga bisa mencari oleh-oleh khas pontianak.

Penulis: Bibi Suprianto

Rabu, 30 Mei 2018

Kota Pontianak Di Moment Ramadhan

Kota Pontianak Di Moment Ramadhan

Ramadan adalah bulan yang selalu di tunggu-tunggu kehadirannya oleh seluruh umat Muslim di dunia. Bulan Ramadan merupakan bulan dimana seluruh pahala di lipat gandakan sehingga membuat seluruh umat Muslim berbondong-bondong untuk memperbanyak ibadah dari bulan-bulan yang lain. Khususnya di Indonesia yang merupakan penduduk Muslim terbesar di dunia, Ramadan selalu menghadirkan cerita dan kemeriahan dalam menjalankan aktivitas sehari-hari dengan cara yang berbeda-beda.



Penduduk Indonesia yang menjalankan ibadah puasa di bulan Ramadan tentu mempunyai perbedaan-perbedaan tergantung budaya yang mereka lakukan di daerahnya masing-masing. Khususnya di Pontianak yang merupakan daerah asal suku Melayu yang beragama Islam membuat Pontianak mayoritas penduduknya beragama Islam.

Di Pontianak bulan Ramadan selalu menjadi moment yang hadir setiap tahun, dimana kemeriahan bulan Ramadan terjadi dan di lakukan setiap Hari. Hal ini di karenakan bagi penduduk kota Pontianak bahwa bulan Ramadan adalah bulan yang penuh dengan berkan sehingga setiap kali bulan Ramadan Datang orang-orang akan mempunyai kesibukan Baru yang mereka senangi seperti menghidupkan waktu menjelang berbuka dengan membudayakan acara ngabuburit sambil berburu makanan untuk berbuka puasa.
   
Ngabuburit di pontianak hadir dengan cara yang sedikit berbeda, dimana setiap kali bulan Ramadan tiba banyak sekali akan di jumpai kedai-kedai penjual ta’jil baik yang di sediakan tempatnya oleh pemerintah kota pontianak ataupun dengan membuka lapak secara kaki lima yang di lakukan oleh penduduk kota Pontianak. Tentu hal ini sebagai Berkah bagi masyarakat kota Pontianak karena dengan kebiasaan berbelanja ta’jil yang di lakukan oleh mayoritas masyarakat Pontianak juga telah membuka kesempatan usaha Baru bagi pedagang-pedagang yang hendak menjajakkan beragam makanan ringan ataupun makan berat khas kalimantan barat.



Akan sangat mudah menemui kedai-kedai penjual ta’jil karena memang di setiap pinggiran jalan kota pontianak selalu ada pedagang-pedagang yang berjualan. Meskipun di kota-kota lain di Indonesia juga terdapat hal dan kebiasaan yang sama, tapi di Pontianak terlihat sedikit berbeda karena kebiasaan ini tidak pernah hilang setiap tahun. Kemeriahan ngabuburit di kota pontianak juga di lengkapi dengan adanya budaya menyalakan Miriam karbit di tepian Sungai Kapuas yang Suaranya dapat terdengar hingga radius dua kilometer. Budaya yang berlangsung sejak zaman nenek moyang ini tidak pernah hilang di gerus kemajuan zaman, masyarakat Pontianak justeru gemar menghidupkan budaya sekaligus meneriahkan bulan Ramadan di pontianak dengan cara-cara yang sederhana. Begitulah Kota Pontianak Di Moment Ramadhan jika anda berkunjung ke kota Pontianak dan ingin mencari oleh-oleh anda bisa membaca ini Cari Oleh Oleh Khas Pontianak, Anda Bisa Kunjungi Pasar PSP.

Penulis: Zakaria Efendi

Kamis, 17 Mei 2018

Jadwal Imsakiyah Ramadhan 2018 wilayah Pontianak

Jadwal Imsakiyah Ramadhan 2018 wilayah Pontianak

Borneo Live - Jadwal Imsakiyah Ramadhan 2018 Wilayah Pontianak. Berikut adalah jadwal imsyakiyah ramadhan tahun 2018/1439 H yang bersumber dari Bimas Islam Kemenag untuk wilayah Kota Pontianak dan sekitarnya.


Sedangkan untuk jadwal wilayah lainnya anda dapat mengakses laman Bimas Islam Kemenag kemudian pilih sesuai lokasi anda atau ikuti instruksi gambar berikut:


Terima kasih dan semoga bermanfaat.

Baca Juga |

Tentang Masjid Mujahidin Pontianak


Minggu, 13 Mei 2018

Tentang Masjid Mujahidin Pontianak

Tentang Masjid Mujahidin Pontianak

Masjid Mujahiddin lebih di  kenal dengan sebutan Masjid Raya Mujahiddin yang menunjukkan bahwa masjid tersebut sebagai Masjid terbesar di Kalimantan barat. Masjid Raya Mujahiddin terletak di pusat Kota Pontianak, bentuk bangunan yang luas dan megah menjadikan masjid ini sebagai icon umat muslim Kalimantan barat, khususnya kota Pontianak. Masjid Raya Mujahiddin berdiri sejak tahun 1978 dan sudah mengalami beeberapa kali renovasi, setelah mengalami beberapa tahapan-tahapan renovasi akhirnya masjid ini selesai pada tahun 2015.



Masjid Raya Mujahiddin terletak di Jalan Jendral Ahmad Yani, kel. Akcaya, kec. Pontianak selatan, Akcaya, Kota Pontianak, Kalimantan barat. Menara masjid yang menjulang tinggi membuat Masjid ini bisa di lihat dari jarak sekitar dua kilometer. Mujahiddin merupakan nama yang di nobatkan untuk Masjid dan juga yayasan yang mengelolah Masjid terbesar ini. Mujahiddin juga sebagai Nama sekolah yang terdapat di sekitar komplek Masjid Raya Mujahiddin.

Bangunan Masjid Raya Mujahiddin terdiri dari dua lantai, lantai pertama di gunakan untuk ruang serba guna yang bisa disewakan untuk acara-acara keluarga. Lantai utama terletak di lantai dua yang di fungsikan untuk sholat berjamaah setiap hari dan juga pusat dakwah di kota Pontianak. Bangunan yang megah di tujang dengan lima menara yang menjulang tinggi sehingga membuat Masjid Raya Mujahiddin terlihat sangat indah. Bangunan yang megah  menjadikan Masjid Raya Mujahiddin sebagai objek fotografi dan videografi di kota Pontianak serta menjadi objek rekreasi Islami di pusat Kota Pontianak.

Baca Juga |


Bangunan Masjid Raya Mujahiddin memiliki diameter yang cukup besar dan luas, nama Mujahiddin merupakan nama yang di usulkan oleh Achmad Mawardi Djafar sebagai dedikasi kepada para pejuang kemerdekaan Indonesia dari Kalimantan barat. Selain bangunan masjid yang megah, Masjid Raya Mujahiddin juga mempunyai halaman parkir yang cukup luas. Masjid Raya Mujahiddin di kelola oleh yayasan Mujahiddin yang bertugas untuk mengelola dan membuat program-program keagamaan di Masjid Raya Mujahiddin.



Masjid Raya Mujahiddin tidak pernah sepi jamaah, hal ini di karenakan masyarakat Pontianak dan juga Kalimantan barat sadar akan pentingnya memakmurkan Masjid. Yayasan Mujahidddin juga memiliki program rutin untuk menyediakan Buka puasa Sunnah gratis setiap hari senin dan kamis. Selain itu, di masjid Raya Mujahiddin juga sering di adakan kajian rutin dan sesekali mengundang Da’I kondang di Indonesia sehingga jamaah yang datang mampu memenuhi ruangan Masjid Raya Mujahiddin. Ketika Bulan Ramadhan tiba maka masjid Raya Mujahiddin akan menjelma menjadi pusat kegiatan masyarakat kota Pontianak, karena biasanya di halaman Masjid Raya Mujahiddin didirikan bilik-bilik untuk berjualan makanan buka puasa.

Penulis: Zakaria Efendi

Jumat, 30 Maret 2018

Cari Oleh Oleh Khas Pontianak, Anda Bisa Kunjungi Pasar PSP

Cari Oleh Oleh Khas Pontianak, Anda Bisa Kunjungi Pasar PSP


Pontianak merupakan Kota berkembang dengan tingkat kepadatan penduduk yang memusat. Sebagai kota dengan identitas yang berbeda karena di lalui garis khatulistiwa, pontianak juga sering di sebut dengan sebutan kota khatulistiwa. Ada beberapa versi yang mengisahkan asal-usul nama kota yang identik dengan Sungai Kapuas dan tugu khatulistiwa ini. Di antaranya adalah kisah mistik yang mengisahkan bahwa di Zaman dahulu terdapat banyak hantu kuntilanak. Sebagai ibu kota provinsi kalimantan barat, Pontianak menjadi tempat singgah dan rekreaski bagi orang-orang yang datang ke kalimantan barat.

Banyaknya pendatang yang datang ke pontianak baik untuk berekreasi, faktor pekerjaan maupun hanya sekedar singgah untuk melanjutkan perjalanan ke kota lain, di pontianak terdapat sebuah Pasar oleh-oleh yang menjual oleh-oleh khas Pontianak dan kalimantan barat. Pasar oleh-oleh ini tidak jauh dari pusat kota Pontianak, jalan gajah Mada. Perjalanan bisa di tempuh kurang lebih selama 20 menit dari penginapan-penginapan di jalan gajah Mada pontianak.

Pusat oleh-oleh Pontianak berada di jalan patimura dan bersebelahan dengan gereja terbesar di pontianak, katedral. Pusat belanjan khas pontianak lebih di kenal dengan sebutan Pasar PSP atau Pasar oleh-oleh khas Pontianak. Pasar oleh-oleh ini menjadi salah satu destinasi wisata belanjan di kota pontianak, disini pengunjung dapat berbelanja barang-barang dan makanan khas pontianak dan Kalimantan barat. Pasar PSP buka pagi Hari hingga pukul 22.00. Sehingga banyak kesempatan yang bisa di gunakan bagi pengunjung kota Pontianak untuk berbelanja ke Pasar PSP.

Pasar PSP juga terletak tidak jauh dari alun-alun Kapuas, sehingga ketika pengunjung kota Pontianak berekreasi ke alun-alun Kapuas, tidak perlu jauh-jauh untuk mampir di Pasar PSP. Atau bahkan perjalanan bisa dilakukan satu arah jika anda menginap di hotel – hotel yang berada di jalan Gajah Mada. Kecanggihan teknologi juga bisa di gunakan untuk menemukan Pasar ini, karena mungkin anda tidak sempat untuk bertanya. Maka Google map bisa di gunakan sebagai pununjuk arah untuk Datang ke Pasar oleh-oleh PSP.

Pasar oleh-oleh Pontianak menyediakan berbagai Macam pernak-pernik khas pontianak seperti miniatur tugu khatulistiwa, cindramata ukiran khas dayak dan Melayu, serta kain khas Melayu dan tenunan dayak kalimantan barat. Selain itu di Pasar oleh-oleh Pontianak juga menjual makanan khas pontianak dan kalimantan barat, sehingga bagi Para pendatang yang ingin membawa oleh-oleh dari Pontianak tidak perlu susah payah untuk mencari.

Pasar oleh-oleh Pontianak juga menjadi destinasi rekreaski jalan Kaki di kota pontianak, banyak tempat yang bisa di singgahi di kota pontianak membuat Pasar oleh-oleh Pontianak menjadi salah satu tujuan yang harus di datangi. Berbelanja di Pasar PSP membuat kedatangan anda semakin komplit, karena anda bisa membawa pulang oleh-oleh khas pontianak dan kalimantan barat. Sehingga kedatangan anda ke pontianak dapat terkenang sepanjang waktu.

Penulis: Zakaria Efendi