Tampilkan postingan dengan label wisata pontianak. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label wisata pontianak. Tampilkan semua postingan

Rabu, 05 September 2018

Masjid Jami Pontianak, Masjid Tertua di Pontianak Kalimantan Barat

Masjid Jami Pontianak, Masjid Tertua di Pontianak Kalimantan Barat


Masjid Jami’ Sultan Syarif Abdurrahman Al-Kadrie merupakan masjid yang tertua yang terletak di daerah kampung Beting, Kelurahan Dalam Bugis, Kecamatan Pontianak Timur, Kota Pontianak. Konon katanya, banyak sekali peninggalan sejarah yang ada di dalam pembangunan masjid ini. Simbol-simbol tentang kerajaan dan pendirian masjid Jami’ Sultan Syarief Abdurrahman Al-Kadrie terletak di berbagai bagian masjid tersebut.

Dalam sejarah berdirinya masjid Sultan Syarief Abdurrahman Al-Kadrie, tentu saja terkait dengan masa kepemimpinan dan tokoh pendirinya. Pemimpin keraton yang merupakan tokoh pendiri Masjid Sultan Syarief Abdrurrahman Al-Kadrie merupakan keturunan dari kerajaan yang memiliki trah keluarga di Hadramaut di negeri Arab yang marganya disebut dengan Al-Kadrie. Silsislah-silsilah tersebut selalu dijaga oleh kalangan keluarga mereka, untuk dapat mempertahankan nama keturunan bangsa Arab yang selalu mengalir pada diri mereka. Tidak dapat dipungkiri bahwa mereka mempunyai bakat kepemimpinan dan menjadi panutan masyarakat pada zamanya.

Masjid Jami’ Sultan Syarif Abdurrahman Al-Kadrie terletak tidak jauh dari Keraton Kadariyah yang didirikan oleh Syarif Abdurrahman Al-Kadrie dan diteruskan oleh sultan-sultan dari keluarga Al-Kadrie, yang sekarang dikenal dengan Kampong Beting. Tulisan ini ditulis berkaitan dengan gambaran Masjid Jami’ Sultan Syarief Al-kadrie dan sejarah terbentuknya. Masjid ini adalah bukti sejarah peningalan kesultanan Kadariyah yang menjadi tempat beribadah umat muslim pada zaman kesultanan sebelum kemerdekaan Republik Indonesia.

Masyarakat di kota Pontianak, baik yang berada di wilayah sekitar keraoton maupun di seberang sungai berdatangan untuk menunaikan Shalat Jumat. Sultan memang mewajibkan masyakarat untuk shoalat Jumat di Masjid Jami pada saat itu, khusus untuk wilayah keraton dan sekitarnya. Sedangkan untuk daerah-daerah yang agak jauh, maka cukup dikirim wakilnya saja untuk shalat Jumat di Masjid Jami.

Melalui data yang penulis dapatkan dari  Abah Syarif Selamat Joesoef Alkadrie yang berusia 80 tahun (saat ini di tahun 2018), seorang Pengeran Bendahara kesultanan, melalui data berbentuk lembar teks Sejarah Lahirnya Kota Pontianak (04/11/2017), dapat diketahui bahwa kota Pontianak didirikan oleh Syarif Abdurrahman pada tanggal 23 oktober 1771 yang bertepatan dengan tanggal 14 rajab 1185 H. Kota asal yang menjadi cikal-bakal kota Pontianak dibangun di persimpangan tiga Sungai Kapuas Besar, Sungai Kapuas Kecil dan Sungai Landak.

Kampung yang pertama dimulai dibukannya kota Pontianak sekarang ini dikenal dengan nama Kampung Dalam Bugis, di mana di situ juga terletak Masjid Jami’ (Masjid Sultan Abdurrahman) dan istana kerajaan yang dikenal dengan nama Keraton Kadariyah. Pendirian Masjid Jami’ (Masjid Sultan Abdurrahman) dikepalai oleh Syarif Usman Ibnu Almarhum Sultan Abdurrahman Ibnu Almarhum Al-Habib Husin Tuan besar mempawah bin Achmad bin Husin bin Muhammad Alkadri, pada hari selasa sehari bulan Muharram 1238H.

Sultan Syarif Usman (1819-1855), sultan ke-3 Kesultanan Pontianak, tercatat sebagai sultan yang pertama kali meletakkan fondasi bangunan masjid sekitar tahun 1821 M/1237 H. Bukti bahwa masjid tersebut dibangun oleh Sultan Syarif Usman dapat dilihat pada inskripsi huruf Arab yang terdapat di atas mimbar masjid yang menerangkan bahwa Syarif Usman pada hari selasa bulan Muharam tahun 1237 Hijrah. Berbagai penyempurnaan bangunan masjid terus dilakukan oleh sultan-sultan berikutnya hingga menjadi bentuknya seperti sekarang ini. Untuk menghormati jasa Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri, pendiri kota Pontianak dan sultan pertama kesultanan di sebelah barat Istana Kadriah itu pun diberi nama masjid Jami’ Sultan Abdurrahman.

Sebagai tempat ibadah umat Islam, khususnya untuk melaksanakan ibadah sholat secara berjama’ah, masjid memiliki arsitektur yang berbeda-beda dan unik, termasuk sejarahnya. Masjid Jami’ Sultan Syarif Abdurrahman adalah masjid tertua yang terdapat di kota Pontianak, terutama di Desa Beting Kecamatan Pontianak Selatan. Masjid ini memiliki panjang 33,27 meter dan lebar 27,74 meter. Terdapat enam pilar kayu berlian berdiameter setengah meter di dalam masjid. Selain pilar bundaran, ada juga enam tiang penyangga lainnya yang menjulang ke langit-langit masjid berbentuk bujur sangkar yang berukuran setara dengan kayu belian untuk tiang rumah dewasa, bahkan di atas rata-rata. Di bagian bangunan masjid tersebut juga terdapat denah masjid, ruang masjid, tampat wudhu dan tiang bendera.

Denah masjid merupakan gambaran keberadaan ataupun lingkungan masjid tersebut. Di depan masjid terdapat lapangan yang cukup luas, menyerupai alun-alun yang biasanya ditemukan di tanah Jawa. Beberapa puluh meter di sebelah selatan dari masjid, terdapat Istana Sultan Kraton Kadriyah. Tanah lapang di sekitar masjid dapat kita artikan sebagai ruang tempat tamu ataupun tempat menerima masyarat yang berkunjung pada tempat tersebut.

Tempat wudhu merupakan tempat di mana seseorang ingin mensucikan diri agar bisa melaksanakan sholat dengan sah. Sedangkan tiang yang didirikan di depan masjid tersebut merupakan tiang bendera untuk tanda. Masjid Jami’ (Masjid Sultan Abdurrahman) didirikan pada hari selasa sehari bulan Muharram 1238H. itulah cerita Masjid Jami Pontianak, Masjid Tertua di Pontianak Kalimantan Barat, jika berkunjung ke pontianak anda juga bisa mencari oleh-oleh khas pontianak.

Penulis: Bibi Suprianto

Rabu, 30 Mei 2018

Kota Pontianak Di Moment Ramadhan

Kota Pontianak Di Moment Ramadhan

Ramadan adalah bulan yang selalu di tunggu-tunggu kehadirannya oleh seluruh umat Muslim di dunia. Bulan Ramadan merupakan bulan dimana seluruh pahala di lipat gandakan sehingga membuat seluruh umat Muslim berbondong-bondong untuk memperbanyak ibadah dari bulan-bulan yang lain. Khususnya di Indonesia yang merupakan penduduk Muslim terbesar di dunia, Ramadan selalu menghadirkan cerita dan kemeriahan dalam menjalankan aktivitas sehari-hari dengan cara yang berbeda-beda.



Penduduk Indonesia yang menjalankan ibadah puasa di bulan Ramadan tentu mempunyai perbedaan-perbedaan tergantung budaya yang mereka lakukan di daerahnya masing-masing. Khususnya di Pontianak yang merupakan daerah asal suku Melayu yang beragama Islam membuat Pontianak mayoritas penduduknya beragama Islam.

Di Pontianak bulan Ramadan selalu menjadi moment yang hadir setiap tahun, dimana kemeriahan bulan Ramadan terjadi dan di lakukan setiap Hari. Hal ini di karenakan bagi penduduk kota Pontianak bahwa bulan Ramadan adalah bulan yang penuh dengan berkan sehingga setiap kali bulan Ramadan Datang orang-orang akan mempunyai kesibukan Baru yang mereka senangi seperti menghidupkan waktu menjelang berbuka dengan membudayakan acara ngabuburit sambil berburu makanan untuk berbuka puasa.
   
Ngabuburit di pontianak hadir dengan cara yang sedikit berbeda, dimana setiap kali bulan Ramadan tiba banyak sekali akan di jumpai kedai-kedai penjual ta’jil baik yang di sediakan tempatnya oleh pemerintah kota pontianak ataupun dengan membuka lapak secara kaki lima yang di lakukan oleh penduduk kota Pontianak. Tentu hal ini sebagai Berkah bagi masyarakat kota Pontianak karena dengan kebiasaan berbelanja ta’jil yang di lakukan oleh mayoritas masyarakat Pontianak juga telah membuka kesempatan usaha Baru bagi pedagang-pedagang yang hendak menjajakkan beragam makanan ringan ataupun makan berat khas kalimantan barat.



Akan sangat mudah menemui kedai-kedai penjual ta’jil karena memang di setiap pinggiran jalan kota pontianak selalu ada pedagang-pedagang yang berjualan. Meskipun di kota-kota lain di Indonesia juga terdapat hal dan kebiasaan yang sama, tapi di Pontianak terlihat sedikit berbeda karena kebiasaan ini tidak pernah hilang setiap tahun. Kemeriahan ngabuburit di kota pontianak juga di lengkapi dengan adanya budaya menyalakan Miriam karbit di tepian Sungai Kapuas yang Suaranya dapat terdengar hingga radius dua kilometer. Budaya yang berlangsung sejak zaman nenek moyang ini tidak pernah hilang di gerus kemajuan zaman, masyarakat Pontianak justeru gemar menghidupkan budaya sekaligus meneriahkan bulan Ramadan di pontianak dengan cara-cara yang sederhana. Begitulah Kota Pontianak Di Moment Ramadhan jika anda berkunjung ke kota Pontianak dan ingin mencari oleh-oleh anda bisa membaca ini Cari Oleh Oleh Khas Pontianak, Anda Bisa Kunjungi Pasar PSP.

Penulis: Zakaria Efendi

Jumat, 30 Maret 2018

Cari Oleh Oleh Khas Pontianak, Anda Bisa Kunjungi Pasar PSP

Cari Oleh Oleh Khas Pontianak, Anda Bisa Kunjungi Pasar PSP


Pontianak merupakan Kota berkembang dengan tingkat kepadatan penduduk yang memusat. Sebagai kota dengan identitas yang berbeda karena di lalui garis khatulistiwa, pontianak juga sering di sebut dengan sebutan kota khatulistiwa. Ada beberapa versi yang mengisahkan asal-usul nama kota yang identik dengan Sungai Kapuas dan tugu khatulistiwa ini. Di antaranya adalah kisah mistik yang mengisahkan bahwa di Zaman dahulu terdapat banyak hantu kuntilanak. Sebagai ibu kota provinsi kalimantan barat, Pontianak menjadi tempat singgah dan rekreaski bagi orang-orang yang datang ke kalimantan barat.

Banyaknya pendatang yang datang ke pontianak baik untuk berekreasi, faktor pekerjaan maupun hanya sekedar singgah untuk melanjutkan perjalanan ke kota lain, di pontianak terdapat sebuah Pasar oleh-oleh yang menjual oleh-oleh khas Pontianak dan kalimantan barat. Pasar oleh-oleh ini tidak jauh dari pusat kota Pontianak, jalan gajah Mada. Perjalanan bisa di tempuh kurang lebih selama 20 menit dari penginapan-penginapan di jalan gajah Mada pontianak.

Pusat oleh-oleh Pontianak berada di jalan patimura dan bersebelahan dengan gereja terbesar di pontianak, katedral. Pusat belanjan khas pontianak lebih di kenal dengan sebutan Pasar PSP atau Pasar oleh-oleh khas Pontianak. Pasar oleh-oleh ini menjadi salah satu destinasi wisata belanjan di kota pontianak, disini pengunjung dapat berbelanja barang-barang dan makanan khas pontianak dan Kalimantan barat. Pasar PSP buka pagi Hari hingga pukul 22.00. Sehingga banyak kesempatan yang bisa di gunakan bagi pengunjung kota Pontianak untuk berbelanja ke Pasar PSP.

Pasar PSP juga terletak tidak jauh dari alun-alun Kapuas, sehingga ketika pengunjung kota Pontianak berekreasi ke alun-alun Kapuas, tidak perlu jauh-jauh untuk mampir di Pasar PSP. Atau bahkan perjalanan bisa dilakukan satu arah jika anda menginap di hotel – hotel yang berada di jalan Gajah Mada. Kecanggihan teknologi juga bisa di gunakan untuk menemukan Pasar ini, karena mungkin anda tidak sempat untuk bertanya. Maka Google map bisa di gunakan sebagai pununjuk arah untuk Datang ke Pasar oleh-oleh PSP.

Pasar oleh-oleh Pontianak menyediakan berbagai Macam pernak-pernik khas pontianak seperti miniatur tugu khatulistiwa, cindramata ukiran khas dayak dan Melayu, serta kain khas Melayu dan tenunan dayak kalimantan barat. Selain itu di Pasar oleh-oleh Pontianak juga menjual makanan khas pontianak dan kalimantan barat, sehingga bagi Para pendatang yang ingin membawa oleh-oleh dari Pontianak tidak perlu susah payah untuk mencari.

Pasar oleh-oleh Pontianak juga menjadi destinasi rekreaski jalan Kaki di kota pontianak, banyak tempat yang bisa di singgahi di kota pontianak membuat Pasar oleh-oleh Pontianak menjadi salah satu tujuan yang harus di datangi. Berbelanja di Pasar PSP membuat kedatangan anda semakin komplit, karena anda bisa membawa pulang oleh-oleh khas pontianak dan kalimantan barat. Sehingga kedatangan anda ke pontianak dapat terkenang sepanjang waktu.

Penulis: Zakaria Efendi