Minggu, 13 Desember 2020

Kebudayaan Masyarakat di Sekitar Masjid Jami’ Sultan Syarief Abdurrahman Al-Kadrie

Kebudayaan Masyarakat di Sekitar Masjid Jami’ Sultan Syarief Abdurrahman Al-Kadrie

 


Masjid merupakan tempat peribadatan bagi umat Islam. Selain itu, masjid juga memiliki fungsi lain yaitu sebagai tempat pelaksanaan kegiatan religius kebudayaan yang berkembang di masyarakat setempat. Berbagai kebudayaan itu tentunya akan terdapat perbedaan antar daerah. Semua ini tergantung dari kebudayaan lokal yang masih diasumsi oleh masyarakat di setiap daerah tertantu.

Masjid Jami’ Sultan Syarif Abdurahman Al-Kadrie memiki usia sekitar 246 tahun. Tentu ini bukan lagi usia yang muda, apalagi untuk disandingkan dengan usia Negara Indonesia yang masih sangat belia. Oleh sebab itu, wajar jika bangunan Masjid Jami’ Sultan Syarief abdurahman Al-Kadrie mengalami beberapa kali perenovasian. Dengan usia yang hampir memasuki dua setangah abad itu, tentu banyak sekali kebudayaan yang telah diwarikan dan masih dilakuakan hingga sekarang oleh masyarakat di daerah Pontinak khususnya masyarakat yang tinggal di sekitar masjid.

Area masjid Jami’ Sultan Syarif Abdurahman Al-Qadrie merupakan area tanah yang terpengaruh dengan pasang surut air sungai karena letaknya hanya sekitar beberapa meter dari sungai Kapuas. Jika diperhatikan, masjid ini terlihat seperti terpisah dengan keraton Kadariyah dikarenakan adanya jembatan kecil penghubung antara area keraton dan area masjid. Posisi ini seolah-olah terlihat seperti tanjung pulau yang terpisah dari lahan sekitarnya.

Menurut bapak Syarif Usman (54 tahun)  pertama kali masjid Jami’ Sultan Syarif Abdurrahman Al-Qadrie dibuat sebagaimana yang dijelaskan Usman bin Abdurahman dalam tulisannya yang sampai sekarang dapat dilihat sebagai kaligrafi yang memiliki nilai estetik dan tertata juga menyimpan nilai sejarah. Kaligrafi berisi informasi sejarah berdirinya Masjid jami’ Sultan Syarif Abdurrahman Al-Qadrie berada tepat diatas mimbar. Bagi orang awam, tulisan itu hanya sebagai kaligrafi yang biasa menghiasi masjid, namun bagi seorang peneliti yang terlebih yang ahli bahasa arab akan melihatnya sebagai litesi.

Kebudayaan Masyarakat Pontianak

Menurut Van Peursen (2001: 9) kebudayaan merupakan endapan dari kegiatan dan karya manusia. Berdasarkan data hasil wawancara dengan pak Safendi sebagai ketua RT (4/11/2017) mengatakan jumlah penduduk di kampung tersebut 1260 penduduk, 467 KK,  420 RT 120 RW dan 7 kelurahan. Jika dilihat dari data yang diperoleh tersebut terlihat cukup banyak masyarakat yang menempati daerah kampung beting.  Bapak Syarif Selamat Joesoef Al-Kadrie atau yang lebih akrab disapa Abah Simon yang ditemui di rumahnya  mengungkapkan bahwa banyak sekali kegiatan yang dilakukan masyarakat di sekitar masjid. Adapun diantaranya adalah seprahan, kegiatan ini sedikit berbeda dengan tradisi saprahan yang ada di Sambas ataupun Singkawang. Dari penamaannya juga sudah menunjukkan adanya sedikit perbedaan antara tradisi seprahan di Pontianak dengan saprahan di Sambas dan Singawang. Jika Saprahan setiap orang makan dengan hidangan di dalam talam dengan anggota kelompok sekitar 5-6 orang, maka Seprahan memungkinkan setiap orang makan saling berhadapan di tempat yang sama menggunakan daun pisang yang dipanjangkan.

Sejarah kegiatan secara rutin dilakukakan masjid Sultan Syarif Abdurrahman sulit diperoleh, beberapa sumber memastikan bahwa setiap hari besar Islam dilangsungkan di masjid ini. Terutama saat perayaan maulid nabi Muhammad saw. secara turun-temurun diselenggarakan dengan berbagai kegiatan seperti arak-arakan (Kirap) dari masjid ke alun-alun keraton Kadariah, khitanan massal, pernah juga diadakan pernikahan massal sekitar tahun 1930-an.

Beberapa sumber memastikan bahwa dahulu segala kegiatan (hajat) yang dilakukan keraton Kadariyah senantiasa melibatkan kegiatan pula di lingkungan masjid. Melihat para pendahulunya yang sering dalam menyebarkan syi’ar Islam dengan berprinpsip kepada toleransi budaya yang tinggi, sangat mungkin bahwa masjid Sultan Syarif abdurahman merupakan wadah pengembangan kebudayaan Islam di masa lalu, tidak terlepas pada kegiatan peribadatan. Sekarang ini acara serupa masih dilangsungkan, terutama hari-hari besar Islam. Dan peringatan hari jadi kota Pontianak sampai sekarang masih diselenggarakan di masjid Sultan Syarif Abdurrahman, yang dihadiri oleh Walikota beserta PEMDA kota Pontianak disertai warga sekitar masjid. Selain itu pada bulan Ramadhan, masjid Sultan Syarif Abdurrahman juga menyelenggarakan kegiatan pembinaan keagamaan yang ditujukan kepada  generasi muda (remaja) yakni kegiatan “Perkampungan Ramadhan” yang dilangsungkan selama beberapa hari diawal bulan ramadhan. Serta masjid Sultan Syarif Abdurrahman membuka unit pengelola zakat yang melakukan pengumpulan dan penyaluran zakat fitrah,zakat maal, infaq,dan shadaqah pada bulan ramadhan serta melakukan penyembelihan dan penyaluran hewan qurban pada hari raya idul Adha.

Selain penjelasan di atas, ada pula kebudayaan lain yang dilakukan masyarakat sekitar masjid sebagaimana yang dijelaskan oleh pak penjaga masjid, seperti minum  air berkah dan awet muda di tempayan yang berada di pojok kiri bagian belakang masjid. Terdapat dua buah tempayan yang selalu diisi oleh penjaga masjid setiap ada hujan di hari jum’at sebagai simbol keberkahan.

Kebetulan pula pak penjaga Masjid mendapat cucu perempuan yang baru seminggu dilahirkan, kemudian bayinya dibawa ke mimbar utama, berdasarkan informasi yang di dapat ternyata itu sudah menjadi tradisi bagi pak penjaga Masjid dan masyarakat sekitar masjid untuk mendo’akan kebaikan dan keselamatan bagi bayi yang baru lahir dengan memanjatkan do’a-do’a untuk si bayi. Walau demikian, tidak semua warga masih mau melakukan tradisi tersebut, karena memang setiap kebudayaan pasti akan mengalami pergeseran-pergeseran selaras dengan berkembangnya ilmu pengetahuan.


Penulis        : Dayang Rusna Almuharni

Publish       : 13 Desember 2020


Jumat, 04 Desember 2020

Bukit Kelam, Batu Raksasa Yang Terbaring Di Bumi Senentang

Bukit Kelam, Batu Raksasa Yang Terbaring Di Bumi Senentang

 

     Bukit Kelam atau Gunung Kelam merupakan sebuah batu raksasa (monoloit) yang terletak di Kalimantan Barat, tepatnya di Kabupaten Sintang. Karena ukurannya yang sangat besar batu ini berbentuk layaknya bukit atau gunung dan memiliki ketinggian 1.002 meter diastas permukaan laut (mdpl). Mayoritas masyarakat Sintang dan juga Kalimantan barat menyebut batu tersebut dengan Bukit Kelam. Ukurannya yang menjulang tinggi membuat Bukit Kelam Nampak gagah jika di lihat dari dekat.

      Posisi Bukit Kelam membentang dari barat ke timur dan menjadi salah satu icon kota Sintang di Kalimantan barat. Bukit Kelam terletak di wilayah Hutan Wisata kecamatan Sintang Permai, kabupaten Sintang Kalimantan barat. Jarak Bukit Kelam dengan pusat Kota Sintang sekitar 20 km dan 395 km dari kota Pontianak, ibu kota Provinsi Kalimantan barat.

        Selain menjadi tempat wisata dengan background Bukit Kelam yang indah, Bukit Kelam juga menjadi tempat bagi para pecinta alam dari berbagai daerah untuk melakukan pendakian. Bukit Kelam bisa  di naiki dengan waktu sekitar 4-5 jam. Dinding batu yang curam membuat tidak sembarangan orang bisa menaiki Bukit ini, bagi siapa saja yang ingin mendaki Bukit Kelam hendaknya sudah terlatih dan melakukan persiapan yang matang.

    Namun bagi sebagian orang yang suka dengan tantangan, Bukit Kelam menjadi salah satu opsi. Tingkat kecuraman Bukit Kelam terbilang cukup ekstrem daripada Gunung-gunung biasanya yang cenderung landai. Sehingga hal tersebut menarik para pendaki dari berbagai daerah di Kalimantan barat untuk mencoba sensasi dan tantangan mendaki Bukit Kelam.

Bukit Kelam juga menjadi habitat alami dari tumbuhan langka Kantong Semar, dilansir dari Jurnal Redfern Natural History, MPherson, S.R pernah menulis jurnal pada tahun 2009 dengan judul Pitcher Plants of the old World dimana didalamnya dijelaskan bahwa Bukit Kelam merupakan salah satu habitat yang dikenal paling penting di dunia untuk tanaman Kantong Semar. Bukit Kelam juga menjadi rumah bagi 14 spesies yang berbeda, salah satunya yang endemik dan hanya bisa di temukan di Bukit Kelam adalah Nepenthes Clipetea yang sampai saat ini di anggap menjadi jenis spesies yang paling terancam punah dari spesies lainnya.

    Tanaman Kantong Semar tummbuh disisi tebing granit vertical pada ketinggian antara 500-800 meter. Sebagaian besar tanaman Kantong Semar tumbuh di sudut-sudut jelas dari bukit jauh dari jangkauan. Selain Kantong Semar, Bukit Kelam juga menjadi habitat Anggrek Hitam, sedangkan hewan yang hidup di Bukit Kelam adalah Beruang Madu dan Trenggiling. Selain itu gua-gua yang terdapat di celah-celah Bukit Kelam juga menjadi tempat tinggal dari burung wallet dan burung-burung lainnya.

    Sejarah terbentuknya Bukit Kelam yang menjadi cerita legenda yang berkembang pada masyarakat Sintang dan di ceritakan secara turun-temurun adalah cerita tentang seorang sakti yang bernama Bujang Beji yang memikul sebongkah batu dari Kapuas Hulu untuk membendung sungai Melawi. Hal tersebut dilakukan karena Bujang Beji merasa iri dengan Temenggung Marubai yang menguasai sungai Melawi. Selain itu karena rasa iri hati Bujang Beji yang selalu mendapat tangkapan ikan yang lebih sedikit dari Tumenggung Marubai. Karena itu membuat ia ingin membendung aliran sungai melawi dengan batu besar pada hulu sungai melawi. Akan tetapi saat dalam perjalanan, para Dewi di kahyangan menertawainya sehingga membut Bujang Beji marah dan tali pengikat yang terbuat dari rumput putus. Batu tersebut kemudian jatuh di sebuah lembah yang bernama Jetak, Bujang Beji berusaha mengangkat kembali batu tersebut, namun batu tersebut sudah melekat dan tidak bisa diangkat lagi. Selain cerita masyarakat tersebut, keberadaan Bukit Kelam dikabarkan sebagai sebuah Meteor yang jatuh di Kota Sintang pada jutaan tahun yang lalu.

    Bukit Kelam memiliki potensi untuk dikembangkan sebagai wisata alami  yang terdapat di Kabupaten Sintang. Keindahan alam yang masih asri harus dijaga kelestariannya, karena selain sebagi simbol atau icon Kota Sintang. Bukit Kelam juga menjadi simbol bagi kelestarian alam di tengah masifnya perkembangan perkebunan Kelapa Sawit yang membabat sebagian hutan di Kalimantan barat dan Kalimantan tengah.

      Bukit Kelam juga menjadi sarana bagi wisata alam dan pusat studi kearifan lokal Kota Sintang. Wisatawan yang datang dari luar daerah bisa sekaligus belajar tetang kehidupan masyarakat Dayak di sekitar Bukit Kelam yang menjaga kelestarian Bukit Kelam sehingga kearifan lokal masih bertahan hingga sekarang. Keunikan-keunikan tradisi dan budaya masyarakat di sekitar Bukit Kelam nilai tambah bagi wisatawan yang hendak berlibur ke Bukit Kelam.

 

Penulis/ Author  : Zakaria Effendi

Published            : 4 Desember 2020

 

Minggu, 15 November 2020

Syair Siti Jubaidah Desa Suhaid Kabupaten Kapuas Hulu, Kalimantan Barat.

Syair Siti Jubaidah Desa Suhaid Kabupaten Kapuas Hulu, Kalimantan Barat.

 


Syair Siti Jubaidah Desa Suhaid Kabupaten Kapuas Hulu-Beranjak dari suatu pengalaman penulis berinteraksi dengan salah satu orang tertua di desa Nanga Suhaid dusun Madang Permai. Kakek tersebut bernama H. Bilal Mad yang merupakan salah satu tokoh agama desa Suhaid. Cerita ini diambil ketika Kakek H. Bilal Mad menjadi salah satu narasumber kami untuk penelitian ditahun 2018. Kami mengambil data untuk penelitian kemudian dia bercerita kepada penulis tentang sejarah Syair Siti Jubaidah. pada tahun 2019 Kakek H. Bilal Mad telah meninggal dunia dan cerita Syair Jubaidah menjadi ingatan si penulis ingin menyambung cerita ini.

Syair Siti Jubaidah Desa Suhaid Kabupaten Kapuas Hulu-Siti Jubaidah adalah wanita dari Iran, pulau Perenggi. Berawal dari Sultan Abidin yang memutuskan untuk merantau dan tidak mau menikah, Sultan Abidin berlayar dan belabuh di negeri Suhaid. Ketika itu Sultan Abidin mengembara dan melewati perumahan warga desa. Saat diperjalanan Sultan Abidin melihat Siti Jubaidah yang sedang mengajar ngaji, Sultan Abidin penasaran dengan suara yang merdu yang dilantunkan oleh Siti Jubaidah. Sultan Abidin mendatangi rumah Siti Jubaidah yang sedang membaca Al-qur’an dengan alasan ingin menumpang mandi. Wahai bapak, tutur Sultan Abidin yang mencoba berbicara kepada orangtua Siti Jubaidah yang kebetulan duduk didepan rumah, "apakah saya boleh menumpang mandi disini, karena saya merupakan perantau yang jauh dan tidak memiliki tempat tinggal", Bapak Siti Jubaidahpun menjawab "silahkan wahai anak muda".

Saat masuk kerumah, Sultan Abidin melirik Siti Jubaidah yang sedang membacakan ayat Al-Qur’an. Terpancar wajah cantik dan putih yang membuat Sultan Abidin terpana dan terdiam saat melihat Siti Jubaidah. Waktu itu Sultan Abidin belum mengenali Siti Jubaidah, Sultan Abidin bertanya melalui bapak Siti Jubaidah yang kebetulan mengijinkannya untuk masuk kerumah. Wahai bapak, siapakah nama Dayang tersebut? Dia adalah Siti Jubaidah seorang anak desa yang bersuara Indah.

Tanpa pikir panjang Sultan Abidin ingin menikahi Siti Jubaidah. Dan berkata wahai penduduk rumah aku adalah seorang pengembara yang berasal dari negeri Arab ingin menikahi Siti Jubaidah. Siti Jubaidahpun terkejut, padahal Siti Jubaidah dan Sultan Abidin belum pernah mengenal satu sama lain. Dari Abdullah Sani umar Bakri yang merupakan kerabat dari Siti Jubaidah  membawa Sultan Abidin langsung bertunangan dengan Siti Jubaidah. Mendangar hal tersebut dengan bergegasnya Sultan Abidin memberikan cicin kepada Siti Jubaidah dan melaksanakan tunangan serta menikah dengan syariat Islam.

Ketika itu Sultan Abidin membangun kerajaan negeri Suhaid. Kerajaan kecil yang terletak disebuah desa terpencil tempat Siti Jubaidah tinggal. Sewaaktu ketika ada seorang bapak-bapak yang mengadu permasalannya kepada Sultan Abidin. Bapak tersebut mengatakan bahwasahnya anaknya ingin dinikahi oleh orang China dan ingin diambil secara paksa. Tapi bapak tersebut tidak menginginkan pernikahan mereka karena dari keluarga wanita adalah orang muslim sedangkan pihak lelaki China merupakan kaum Tionghoa. Hal ini memicu perperangan antara kaum China dan Muslim di desa. Sultan Abidinpun memberikan ide kepada bapak tersebut untuk membuat berita bohong kepada kaum China bahwasahnya putri beliau telah meninggal dunia agar China pulang ke Negerinya dan tidak mengejar wanita tersebut. Chinapun meninggalkan desa Suhaid tapi anak bapak tersebut dinikahi dengan Sultan Abidin karena untuk melindungi anaknya yang sedang terancam dari warga China. Siti Jubaidahpun menerima hal tersebut dan istri Sultan Abidin berjumlah dua orang.

Di Istana mereka tentram dan bahagia bahkan dua istri tersebut akur dalam satu rumah. Tiba-tiba saat Siti Jubaidah mengajarkan baca tulis al-Qur’an pada masyarakat keraton. China datang kembali dan memberontak. Kali ini mereka menangkap Sultan Abidin, Abdullah Sani dan Umar Bakrie yang merupakan pemimpin Istana Keraton. Penangkapan tersebut berawal dari Sultan Abidin dan kaumnya menyerang orang-orang China yang mengakibatkan perperangan. Mereka dikalahkan oleh China dan akhirnya ditawan oleh orang China. Siti Jubaidah tidak mengetahui tentang perperangan tersebut dan diapun lari ke Benua Nenek Kebayan karena mendengar dari istana bahwasahnya Sultan Abidin telah tertangkap

Siti Jubaidah berbicara kepada neneknya untuk meminta ijin untuk keluar Istana padahal ketika itu Siti Jubaidah sedang hamil besar. Tiba-tiba saat perjalanan Siti Jubaidah melahirkan anak lelaki tanpa ada orang yang menolong. Anak tersebut diberi dengan nama Ahmad. Siti Jubaidah membawa anaknya ke bukit untuk bertemu dengan Kadi untuk mencari ilmu di bukit. Bermacam-macam ilmu yang Siti Jubaidah pelajari sepeti ilmu penawar racun untuk menjadi wanita yang tangguh. Siti Jubaidah berguru dengan seorang wanita saudara dari raja Mahram. Siti Jubaidah meminta pertolongan untuk bekerja sama menghancurkan China untuk mengambil kembali Sultan Abidin yang ditawan oleh orang-orang China. Siti Jubaidah dan seorang wanita saudara dari raja Mahram menyelinap dan menyerupai seorang laki-laki untuk melepaskan Sultan Abidin di penjara.

Tujuh pemimpin China adalah wanita semua. Kebetulan sewaktu itu Siti Jubaidah menyamar menjadi laki-laki dan satu diantara wanita China menyukai Siti Jubaidah dengan nama samaran yaitu Saha dan temannya bernama Naha dan mereka berdua menulis sebuah surat untuk kerajaan negeri Iraq agar bisa menolong Sultan Abidin yang tertawan. Waktu itu raja Iraq dan Iran sedang berburu di tanah Sultan Abidin. Ternyata raja Iraq adalah saudara Siti Jubaidah yang telah lama berpisah dikarenakan dulunya Siti Jubaidah Putri Bungsu tersesat di Negeri Suhaid.

Siti Jubaidahpun menemukan Sultan Abidin yang sedang diikat dengan tali. Siti Jubaidah menghampiri dan mencoba membuka tali tersebut. Sultan Abidin terkejut dan bertanya siapa engkau wahai lelaki tampan?, aku adalah Saha (ucap Siti Jubaidah yang saat itu menyamar menjadi laki-laki). Sultan Abidinpun bertanya kembali, apakah engkau mengenali Siti Jubaidah. Dia tidak mengetahui kalau sebenarnya Saha merupakan seorang wanita yang bernama Siti Jubaidah yang merupakan istrinya sendiri. Siti Jubaidahpun membuka penyamaranya dan mengatakan wahai Abidin ini aku Siti Jubaidah. Sultan Abidinpun menangis dan memeluk Siti Jubaidah lalu menyayikan sebuah syair yang berjudul Siti Jubaidah wanita cantik dan setia.

Wanita China yang menyukai Siti Jubaidah yang ketika itu menyamar menjadi Saha dinikahkan Siti Jubaidah dengan Suaminya Sultan Abidin dan merekapun bekeluarga. Sultan Abidin memiliki tiga orang Istri yang setia dan cantik. Sultan Abidin dan Istri-istrinya lari kembali ke istana tapi saat tiba di Istana kerajaan telah roboh dihancurkan oleh orang-orang China. Dan kejaraan barupun muncul yang dibawa oleh anak Sultan Abidin dari Siti Jubaidah bernama Ahmad. Syair Siti Jubaidahpun berkumandang merdu saat mereka menyanyikannya dan menjadikan sebuah cerita kesetian dan kelebaran hati seorang Siti Jubaidah.


Dipublikasikan    : 15 November 2020

Penulis                   : Bibi Suprianto 

Narasumber         : Almarhum. H. Bilal Mad

Jumat, 13 November 2020



LITERASI BUDAYA DAN KEWARGANEGARAAN DALAM

PENDIDIKAN KEARIFAN LOKAL KALIMANTAN BARAT

DI ERA PANDEMI 

Nur Rahmiani

IAIN Pontianak 

A.  Pendahuluan

Pandemi Covid-19 terbukti sangat berpengaruh pada tatanan kehidupan masyarakat Kalimantan Barat terutama dalam aspek Pendidikan (Azorin, 2020). Fakta mengenai pembatasan kegiatan di luar rumah yang mengakibatkan aktivitas tatap muka pembelajaran untuk sementara waktu dihentikan sampai batas waktu yang tidak bisa ditentukan adalah bukti nyata dari pengaruh tersebut. Data terkini yang dihimpun terakhir tanggal 11 November 2020 pukul 21.00 WIB pada halaman website resmi Dinas Provinsi Kalimantan Barat menunjukkan bahwa hampir seluruh wilayah Kalimantan Barat berada pada zona risiko sedang kecuali Kabupaten Ketapang yang berada pada zona risiko rendah (Dinkes Provinsi Kalbar, 2020). Selanjutanya, perubahan sistem pendidikan dan penggunaan media pembelajaran tidak dapat dihindarkan dan harus terus berlanjut, dari luring menjadi daring, dari sedikit menggunaan media menjadi hypermedia dengan memanfaatkan kecanggihan teknologi informasi.  

Sementara itu, transformasi yang masif menyebabkan timbulnya penafsiran dalam distingsi budaya dari aktivitas literasi yang dilakukan oleh para pembelajar. Ditambah lagi, waktu mereka bersama teknologi, secara kuantitas akan semakin meningkat. Aktivitas literasi yang mendayagunakan kemampuan membaca dan menulis serta berfikir dan berimajinasi akan terus-menerus dilakukan secara daring. Secara langsung hal ini berimplikasi pada ketercapaian revolusi industri keempat. Tidak akan ada batas ruang dan waktu. Budaya dari berbagai belahan dunia pun akan mudah diakses oleh para pembelajar.

Munculnya kekhawatiran karena adanya disrupsi yang masif menyebabkan peluang lunturnya nilai-nilai kemanusiaan dan sosial pada para pembelajar yang sebenarnya sudah dirasakan sebelum masa pandemi berlangsung. Hal ini ditandai dengan meningkatnya penyakit iri dengki (Hadiarni, 2017), hoax (Prasetyo & Trisyanti, 2018), body-shamming (Rachmah & Baharuddin, 2019), bullying (Hidajat et al., 2015), lebih merasa nyaman dan erat jika berkomunikasi lewat dunia maya dari pada secara langsung (Prasetyo & Trisyanti, 2018). Di samping itu, rasa ketertarikan terhadap kearifan lokal daerahnya sedikit demi sedikit berkurang karena ada kecenderungan paradigma bahwa yang berasal dari luar negeri adalah yang terbaik (Olin, 2020). Mungkin hal ini disebabkan oleh sumber literasi dari luar lebih menarik, lebih variatif, dan lebih mudah didapatkan. Padahal, jika disadari, di dalam kearifan lokal masing-masing juga tersimpan kekhasan budaya Borneo yang menjunjung tinggi adab dan kesopanan. Inilah yang menjadi karakter bangsa seharusnya diaplikasikan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Literasi Budaya dan Kewarganegaraan (LBK) adalah keterampilan bersikap yang mengakui dan mencintai kebudayaan nasional sebagai identitas bangsa dan memahami posisi diri sebagai warga Negara, baik dalam menuntut hak maupun melaksanakan kewajiban (Kemendikbud RI, 2017). Dengan pemahaman ini, Kalimantan Barat juga memiliki beragam suku, budaya, dan agama, dan dengan pertimbangan argumentasi yang rasional, penulis bermaksud memaparkan pentingnya dan upaya nyata yang telah dilakukan oleh akademisi dalam mendukung LBK untuk para pembelajar dalam Pendidikan Kearifan Lokal (PK-L) Kalimantan Barat di era pandemi. Pemaparan ini menjadi sangat penting dengan kenyataan bahwa literasi ini merupakan inti dari sikap berbangsa dan bernegara yang berasaskan Pancasila.

 

B.  Isi

Usaha inventarisasi dan penggalian informasi ini dilakukan dengan berpusat pada institusi pendidikan Islam pertama di Kalimantan Barat, yaitu Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Pontianak. IAIN Pontianak berdiri dalam bentuk awal sebagai Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri Pontianak atas Keputusan Presiden Nomor 11 Tahun 1997 pada tanggal 16 Agustus 2013 M/28 Ramadhan 1434 H. IAIN Pontianak mempunyai visi yaitu “Ulung dan terbuka dalam kajian dan riset keilmuan, keislaman, serta kebudayaan Borneo” (Peraturan Menteri Agama Republik Indonesia No.51 tahun 2015 Bab I Pasal 3). Visi ini sangat selaras dalam mendukung LBK dalam PK-L Kalimantan Barat. Ada dua hal penting yang akan disampaikan di sini.

1.    Pentingnya LBK dalam PK-L Kalimantan Barat di Era Pandemi

Hasil pencarian kata kunci ‘kearifan lokal’; ‘kalimantan barat’; ‘local wisdom’; ‘west borneo’; ‘west Kalimantan’ pada dua halaman website pencarian literatur pada tanggal 12 November 2020, seperti Google Scholar dan Garuda ditemukan bahwa terdapat 547 judul buku atau artikel yang terpublikasi pada tahun 2020 di mana pada tahun tersebut adalah periode berlangsungnya pandemi Covid-19. Hal ini dapat diartikan bahwa peminat kearifan lokal Kalimantan Barat cukup banyak yang berkontribusi membesarkan kearifan lokal di tengah keterbatasan. Kondisi pandemi tidak menghalangi para akademisi untuk terus berkarya.

Beberapa penelitian yang menyebutkan pentingnya eksistensi PK-L dapat ditelusuri dari hasil karya penelitian dosen IAIN Pontianak berikut ini.

a.    Rahmiani et al. (2018) menyatakan bahwa mengembangkan bahan ajar pelengkap Bahasa Inggris berbasiskan local content pada suku Melayu Kalimantan Barat merupakan salah satu kontribusi nyata dalam menjaga dan melestarikan budaya. Para pembelajar akan merasakan pengalaman belajar yang berbeda yaitu dengan menggunakan bahasa Inggris dengan konten lokal yang mudah dipahami.

b.    Zaenuddin et al. (2019) menyatakan bahwa kearifan lokal dipelajari oleh masyarakat muslim pedesaan agar tercipta hubungan yang harmonis di antara penduduk pedesaan dan pedalaman di wilayah Kalimantan Barat. Pemahaman tentang moderasi Islam perlu bersinergis dengan pemahaman kearifan lokal bagi Muslim yang hidup dalam lingkungan yang beragam.

c.    Darmadi (2020) menyatakan bahwa eksistensi kearifan lokal di dalam komunitas suku Melayu Buyan terutama dalam hukum adat setempat terkandung ajaran Islam yang komprehensif. Ajaran tentang kebijaksanaan dan kemuliaan ajaran Islam masih diterapkan dengan baik dan harus diketahui dan dipraktekkan oleh generasi muda sebagai penerus khasanah budaya lokal.

Masih banyak penelitian dosen IAIN Pontianak yang berfokus pada pendidikan karakter dan kearifan lokal yang tidak bisa penulis sebutkan satu-persatu. Intinya, saat ini, di tengah pandemi Covid-19 kita perlu semakin gencar berkontribusi dalam mempromosikan the best values pada kearifan lokal Kalimantan Barat melalui karya literasi. IAIN Pontianak telah membuktikan bahwa visi yang sangat selaras dengan LBK dalam PK-L Kalimantan Barat dibutuhkan oleh dunia pendidikan.

2.      Upaya Nyata dalam Mendukung LBK dalam PK-L Kalimantan Barat di Era Pandemi

Dalam rangka mewujudkan visi dan misi serta tujuan dari IAIN Pontianak perlu adanya usaha dan kerja keras. IAIN Pontianak telah mewujudkan upaya nyata untuk mendukung LBK dalam PK-L Kalimantan Barat melalui Tri Dharma Perguruan Tinggi, khususnya di era pandemi ini meliputi unsur pendidikan dan pengajaran, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat.

Banyak karya-karya dosen IAIN Pontianak yang mengangkat tema Islam dan budaya lokal Kalimantan Barat yang mana sangat relevan dengan visi IAIN Pontianak yang mendukung LBK. Di antara yang lainya, tulisan yang berjudul “Nilai-Nilai Inti (Core Value) Masyarakat Islam di Meruhum Pulau Lemukutan” (Muttaqin, 2014), dan “The Concept of Tawheed of Buginese People in the Ancient Manuscript Lontara Attorioloang Ri Wajo of West Kalimantan” (Patmawati & Wahida, 2018) telah diterbitkan secara daring dan dapat dibaca oleh khalayak luas. Tidak hanya sampai di sini, para dosen juga ternyata mengintegrasikan hasil penelitiannya ke dalam Rencana Pembelajaran Semester (RPS). Ada asas kebermanfaatan hasil penelitian terhadap output pembelajaran. Mahasiswa juga mendapatkan pengalaman belajar langsung dari karya dosennya sendiri dan mereka dapat menggunakan karya dosen sebagai sumber referensi untuk tugas akhir.


Sumber: LP2M IAIN Pontianak (2020)

 

Dosen-dosen yang aktif meneliti kearifan lokal Kalimantan Barat telah membuktikan bahwa mereka dapat berkarya walaupun pada masa pandemi Covid-19. Hal ini dibuktikan dengan dilaunchingnya banyak buku hasil karya dosen bersama mahasiswa dari hasil kegiatan Kampung Riset 2019 yang diselenggarakan oleh LP2M IAIN Pontianak di pertengahan tahun 2020. Tahun ini pula (tahun 2020), Kampung Riset telah dilaksanakan di wilayah Kabupaten Kubu Raya yang didesain secara sistematis mulai dari perencanaan hingga pelaporan. Output dari kegiatan ini adalah artikel ilmiah dan buku yang tidak jauh berbeda dari tahun-tahun sebelumnya, namun dengan tema, lokasi, dan budaya yang berbeda. Salah satu lokasi yang menjadi tujuan Kampung Riset adalah desa Jangkang yang menyimpan kearifan lokal penduduk yang mandiri, berkembang, yang menjunjung tinggi gotong royong dan persatuan (LP2M IAIN Pontianak, 2020).

Di samping itu, dalam rangka mengembangkan minat dan bakat mahasiswa, IAIN Pontianak memberikan kesempatan seluas-luasnya untuk mahasiswa aktif dalam kegiatan ekstrakurikuler. Ada dua komunitas yang saya jadikan contoh mewakili komunitas lainya. Pertama adalah komunitas menulis mahasiswa IAIN Pontianak yang bernama “Club Menulis”. Para anggota sangat produktif menghasilkan karya local wisdom Kalimantan Barat. Kedua adalah komunitas bahasa Inggris mahasiswa Hukum Ekonomi Syariah IAIN Pontianak (The King of HES). Komunitas ini bertujuan untuk berbagi ilmu dan untuk menghasilkan produk berbahasa Inggris yang relevan dengan visi misi IAIN Pontianak dan program studi. Beberapa foto berikut adalah karya literasi komunitas yang bernuansa kearifan lokal Kalimantan Barat yang ditampilkan selama masa pandemi pada halaman Instagram @the_king_of_hes.

Akhirnya, tulisan ini telah menunjukkan bahwa komunitas-kamunitas literasi berbasiskan kampus IAIN Pontianak tersebut telah menjadi bukti nyata bahwa masa pandemi ini pada satu sisi memang berdampak negatif, tetapi pada sisi yang lain mampu memberikan kontribusi positif dalam aspek literasi.


Sumber: Instagram @the_king_of_hes (2020)

C.      PENUTUP

Kebutuhan LBK dalam PK-L terbukti menyatu dalam wujud kecintaan terhadap tanah air dengan menjunjung nilai-nilai luhur budaya bangsa agar tetap terpatri dalam diri sebagai seorang warga Negara Indonesia. Hal ini menjadi sebuah benteng pertahanan terhadap peluang lunturnya nilai-nilai sosial kemanusiaan pada karakter pembelajar akibat disrupsi teknologi di masa pandemi. Tidak benar jika dikatakan bahwa pandemi ini hanya menjadi momok buruk bagi kemanusiaan dan kebudayaan, namun justru manusia diingatkan akan peningnya kedua aspek tersebut dalam kehidupan ini.

Saat ini bukan saatnya lagi berbicara retorika tentang segala sesuatu yang menyangkut kemaslahatan manusia. Perlu upaya nyata yang harus dilakukan akademisi dalam rangka mendukung LBK dalam PK-L Kalimantan Barat. IAIN Pontianak telah menunjukkan usaha konkritnya untuk merealisasikan visi institusi. Dengan berbagai aktivitas positif menyangkut unsur Tri Dharma Perguruan Tinggi, IAIN Pontianak berhasil menunjukkan keunikan Islam Kalimantan Barat melalui kajian dan riset yang mendukung pelestarian budaya Kalimantan Barat.

 

D.      Daftar Resensi

  1. Azorín, C. (2020). Beyond COVID-19 supernova. Is another education coming? Journal of Professional Capital and Community.
  2. Darmadi, D. (2020, August). PENERAPAN HUKUM ADAT UNTUK MENCIPTAKAN HARMONI SOSIAL: PENDEKATAN PENDIDIKAN ISLAMPADA ORANG MELAYU BUYAN. In ICRHD: Journal of Internantional Conference on Religion, Humanity and Development (Vol. 1, No. 1, pp. 237-258).
  3. Dinkes Provinsi Kalbar (2020). https://dinkes.kalbarprov.go.id/covid-19/
  4. Hadiarni, H. (2017). PSIKOPATOLOGI AKIBAT KECANDUAN MEDIA SOSIAL DAN BIMBINGAN KONSELING ISLAMI SEBAGAI ALTERNATIF SOLUSI. PROCEEDING IAIN Batusangkar1(1), 341-356.
  5. Hidajat, M., Adam, A. R., Danaparamita, M., & Suhendrik, S. (2015). Dampak Media Sosial dalam Cyber Bullying. ComTech: Computer, Mathematics and Engineering Applications6(1), 72-81.
  6. Kemendikbud RI. (2017). Materi pendukung literasi budaya dan kewargaan: Gerakan literasi nasional. http://gln.kemdikbud.go.id/glnsite/wp-content/uploads/2017/10/literasi-BUDAYA-DAN-KEWARGAAN.pdf
  7. LP2M IAIN Pontianak (2020). Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Pontianak. https://lp2m.iainptk.ac.id/
  8. Muttaqin, I. (2014). Nilai-Nilai Inti (Core Value) Masyarakat Islam di Meruhum Pulau Lemukutan. Jurnal Khatulistiwa4(2).
  9. Olin, C.Y. (2019). Alasan Generasi Muda Menyukai Budaya Asing daripada Budayanya Sendiri. https://www.kompasiana.com/charlesolin/5eec8c45097f3617452a8232/alasan-generasi-muda-lebih-menyukai-budaya-asing-dari-pada-budaya-nya-sendiri?page=2
  10. Patmawati, P., & Wahida, B. (2018). The Concept of Tawheed of Buginese People in the Ancient Manuscript Lontara Attorioloang Ri Wajo of West Kalimantan. Al-Albab7(2), 177-186.
  11. Peraturan Menteri Agama Republik Indonesia No.51 tahun 2015 Bab I Pasal 3.
  12. Prasetyo, B., & Trisyanti, U. (2018). Revolusi Industri 4.0 dan Tantangan Perubahan Sosial. IPTEK Journal of Proceedings Series, (5), 22-27.
  13. Prasojo, Z. H., Elmansyah, E., & Masri, M. S. H. (2019). Moderate Islam and the social construction of multi-ethnic communities in the hinterland of West Kalimantan. Indonesian Journal of Islam and Muslim Societies9(2), 217-239.
  14. Rachmah, E., & Baharuddin, F. (2019). Faktor Pembentuk Perilaku Body Shaming Di Media Sosial. In Prosiding Seminar Nasional & Call Paper Psikologi Sosial (pp. 66-73).
  15. Rahmiani, N., Salam, U., & Supardi, I. (2018). Developing a Supplementary Material of Malay Tourism for Vocational Students in Pontianak West Kalimantan. Script Journal: Journal of Linguistic and English Teaching3(2), 127.

Dipublikasikan pada:
Jumat, 13 November 2020